Semua Pengetahuan Ada Disini

Pengetahuan

MAKALAH KONSTRIBUSI MUHAMMADIYAH DIBIDANG USAHA R.S

MAKALAH KONSTRIBUSI MUHAMMADIYAH

Halangrintang.com – MAKALAH KONSTRIBUSI MUHAMMADIYAH DIBIDANG USAHA RUMAH SAKIT . Kalian pasti ada tugas untuk membuat makalah tentang makalah konstribusi muhammadiyah dibidang rumah sakit kan? Admin disini mencoba membagikan hasil makalah yang bisa mimin bagikan untuk kalian, jika ada salah kata didalam makalah mimin, mimin minta maaf sebesar-besarnya.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas izin dan kehendak-Nya. Makalah ini dapat saya selesaikan pada waktunya. Penulisan dan pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Adapun yang saya bahas dalam makalah ini mengenai KONTRIBUSI MUHAMMADIYAH dalam AMAL USAHA DIBIDANG RUMAH SAKIT dalam PENANGGULANGAN COVID 19.

Dalam penulisan makalah ini saya menemui berbagai hambatan yang dikarenakan terbatasnya ilmu pengetahuan saya  mengenai hal yang berkenaan dengan penulisan makalah ini. Oleh karena itu, sudah sepatutnya saya berterima kasih kepada dosen pengampu yakni bapak ….. yang telah memberikan limpahan ilmu yang berguna kepada saya.

saya menyadari akan kemampuan saya yang masih amatir. Dalam makalah ini saya sudah berusaha untuk dapat menyusunnya dengan baik. Tapi saya yakin makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, saya mengharapkan saran dan juga kritik untuk menyempurnakan makalah ini.

saya berharap makalah ini dapat menjadi referensi dan berguna bagi kami dan siapapun yang membacanya.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………………………………. i

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………….. ii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………………. iii

BAB I …. PENDAHULUAN ……………………………………………………………………….. 1

  1. Latar Belakang ……………………………………………………………………… 1
  2. Rumusan Masalah ………………………………………………………………… 2
  3. Tujuan ………………………………………………………………………………….. 2

BAB II…. PEMBAHASAN………………………………………………………………………….. 5

  1. Visi dan Kemanusiaan Muhammadiyah …………………………………… 5
  2. Pandangan Muhammadiya Tentang Covid-19 ………………………….. 7
  3. Respon Muhammadiyah dalam Penanganan Covid-19 ……………… 8
  4. Kontribusi Muhammadiyah dibidang Rumah Sakit dalam

menangani Covid-19 ……………………………………………………………. 12

  • Respon Muhammadiyah dalam Penanganan Covid-19 ……………… 8

BAB III .. PENUTUP………………………………………………………………………………… 11

  1. Kesimpulan …………………………………………………………………………. 11
  2. Saran …………………………………………………………………………………. 11

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Covid-19 telah menjadi wabah pandemi global. Virus tak kasat mata ini tidak hanya mengancam keselamatan jiwa manusia saja, tetapi juga telah memorakporandakan sektor ekonomi dan sosial secara luas. Untuk meminimalisir dampak Covid-19, semua kalangan dituntut untuk berperan aktif dan nyata dalam mengatasinya, termasuk Muhammadiyah. Dengan seluruh sumber daya yang dimiliki, Muhammadiyah telah berikhtiar secara maksimal untuk berkontribusi dalam penanganan Covid-19. Muhammadiyah telah membentuk semacam gugus tugas bernama Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) yang menjadi garda terdepan dalam penanggulangan Covid-19 di tanah air. Selain itu juga, Muhammadiyah mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menjalankan protokol kesehatan dalam rangka pencegahan penularan Covid-19, terutama terakit dengan pemberlakukan social/physicaldistancing. Bermula dari kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada Desember 2019, sejumlah pasien mendatangi rumah sakit pusat kota itu dengan membawa keluhan penyakit yang belum pernah dikenal. Dari hasil investigasi kemudian dilaporkan bahwa penyakit itu berasal dari virus, yang oleh Komite Internasionl untuk Taksonomi Virus (ICTV) memberinya nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-Cov-2), dan oleh WHO penyakitnya diberi nama Covid-19, yang merupakan singkatan dari Coronavirus Disease 2019.

Sejak itulah, korban massal berjatuhan di Wuhan akibat terinfeksi Covid-19 ini. Lalu diikuti jutaan korban jatuh berikutnya dengan cepat terjadi di seluruh dunia. Yang paling menyedihkan adalah diantara korban tersebut terdapat tenaga medis yang seharusnya menjadi ujung tombak penanganan Covid-19 ini. Hingga tulisan ini dibuat, minimal telah tercacat sebanyak 198 negara telah terkonfirmasi terpapar Covid-19, termasuk Indonesia yang terkonfirmasi pertama kali tanggal 2 Maret 2020. Melihat eskalasi korban yang begitu meningkat tajam, pada 12 Maret 2020 dirjen WHO, dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengumumkan bahwa organisasi kesehatan dunia tersebut telah menetapkan Covid-19 sebagai wabah pandemic global. Meskipun masih satu genom (gugus) dengan SARS dan virus koronamyang lain, karakteristik Covid-19 sepuluh kali lebih mematikan daripada virus flu babi (H1N1). Dalam pandangan WHO, status pandemi global ditetapkan terhadap Covid-19 merujuk kepada 3 hal, yaitu: Pertama, proses penyebaran virus baru ini begitu cepat dan mudah. Kedua, virus ini tidak mudah terdeteksi, sehingga penyebarannya pun sulit dikontrol. Ketiga, sikap dan kebiasaan masyarakat yang menganggap ringan dan remeh terhadap potensi penyebaran serta resiko akibat infeksi virus ini.

      Virus ini memang telah menjadi momok yang sangat menakutkan. Bagaimana tidak, virus yang tidak kasat mata ini menyerang siapa saja tanpa tebang pilih; tidak pandang usia, jabatan, status sosial dan seterusnya. Sebanyak 34 provinsi yang ada di Negara kita terkonfirmasi telah terinfeksi virus dengan tingkat pandemik yang berbeda-beda. Karena efeknya yang dahsyat itu, Covid-19 telah memorak-porandakan terutama sektor ekonomi dan sosial. Menteri Tenaga Kerja mengonfirmasi sebanyak 1,943,916 pekerja telah kehilangan pekerjaan sekaligus penghasilannya, karena dirumahkan dan di-PHK akibat Covid-19. Prof. Asep Syaifuddin, guru besar IPB, mewanti-wanti, jika Covid-19 sampai Desember 2020 tidak terbendung, maka dampaknya melebihi krisis ekonomi, dan negara kita bisa terancam kolaps.  Bahkan dapat berimbas kepada krisis politik seperti tahun 1998. Apalagi WHO memprediksi negara kita dapat saja menjadi episentrum baru penyebaran Covid-19, jika tidak dikontrol secara ketat.

     Melihat dampak yang begitu serius, berbagai upaya memang telah dilakukan dalam rangka mengatasi Covid-19. Meskipun dianggap terlambat, pemerintah kita dengan berbagai kebijakan telah berupaya keras menghalau virus ini. Sejak 14 Maret 2020 Pemerintah menetapkan kebijakan Covid-19 sebagai Bencana Nasional. Lalu pada 17 Maret Pemerintah menetapkan Status Darurat Tanggap Bencana Korona hingga 29 Mei. Kemudian pada 31 Maret menetapkan Status Darurat Kesehatan Masyarakat. Terakhir, berbeda dengan beberapa Negara yang memberlakukan lockdown, dengan berbagai pertimbangan, Pemerintah kita memilih menetapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah dan mengatasi penyebaran virus ini.

Terhadap kondisi darurat saat ini, seluruh elemen masyarakat, tidak terkecuali Muhammadiyah, dituntut berperan aktif dalam mengahadapi dan melawan Covid-19. Simpul-simpul sosial harus bersatu padu dan tidak boleh berpangku tangan serta pasrah menghadapi masalah besar ini. Semuanya harus bersatu padu melawan Covid-19. Partisipasi ini sangat penting, karena kunci pokok untuk memutus mata rantai penyebarannya ada pada masyarakat.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam pembahsan makalah ini sebagai berikut :

  1. Apa visi kemanusiaan dan muhammadiyah
  2. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai Covid-19
  3. Bagaimana respon muhammadiyah dalam penanganan covid-19
  4. Bagaimana Kontribusi Muhammadiyah dibidang Rumah Sakit dalam menangani Covid-19?

C. Tujuan

  • Untuk mengetahui visi kemanusiaan dan muhammadiyah
  • Untuk mengetahui bagaimana pandangan muhammadiyah mengenai covid-19 ini
  • Untuk mengetahui bagaimanakah respon muhammadiyah dalam penanganan covid-19
  • Untuk mengetahui Bagaimana Kontribusi Muhammadiyah dibidang Rumah Sakit dalam menangani Covid-19?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Visi dan Kemanusiaan Muhammadiyah

“Muhammadiyah selalu hadir ketika bangsa dan kemanusiaan semesta memanggil kala ada masalah.Demikian hal nya ketika pandemi Covid-19 menjadi musibah yang melanda Indonesia dan dunia”. Demikian cuplikan tulisan Hadar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah di harian Republika.299 Pernyataan ini mengisyaratkan 2 hal: Pertama, hidup umat manusia di dunia ini selalu dilewati dan dipenuhi oleh aneka bencana. Bencana telah menjadi bagian dari sunnatullah dalam kehidupan ini yang tidak dapat ditolak, tetapi pada saat yang sama juga harus dihadapi. Kedua, komitmen Muhammadiyah yang selalu terlibat aktif dalam misi kemanusiaan. Secara historis, atensi Muhammadiyah terhadah misi kemanusiaan sebenarnya berawal dari ide H. M. Syuja’ yang ia sampaikan pada “Perkumpulan/Pengajian Malam Jumat” tahun 1917. Misi kemanusiaan itu kemudian dilembagakan menjadi Bagian Penolong Kesengsaraan Umum/Oemoem yang kini dikenal dengan nama populer Rumah Sakit PKU/PKO Muhammadiyah.  Namundalam praktiknya, misi kemanusiaan yang diemban oleh PKU saat itu masih terbatas untuk melayani para kaum dhuafa secara sentralistik di PKO.

Dalam perkembangannya, misi kemanusiaan ini kemudian diperluas dengan terjun langsung ke lokasi-lokasi bencana. Misi kemanusiaan yang dibawa oleh Muhammadiyah tidak memandang latar belakang dan perbedaan agama, etnis, dan perbedaan lainnya, yang kadang menjadi penghalang dalam memberikan bantuan. Muhammadiyah memandang bahwa semua orang yang terdampak bencana, siapapun dia, dari latar belakang apapun, harus dapat dibantu dan harus diberdayakan sehingga bisa hidup layak. Menurut Budi Setiawan, Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), awal mula kepedulian Muhammadiyah terhadap misi kemanusiaan terhadap korban bencana adalah saat meletus Gunung Kelud tahun 1919 yang memakan korban 5000 jiwa. Kemudian tahun 1963 terjadi letusan Gunung Agung yang bertepatan dengan Tanwir Muhammadiyah. Dalam Sidang Tanwir tersebut disepakati agar dibentuk Gugus Tugas untuk menangani korban bencana. Sejak saat itu hingga kini Muhammadiyah secara aktif terlibat dalam misi kemanusiaan, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga pada tingkat global. Di tingkat lokal, Muhammadiyah telah terjun dalam misi kemanusiaan saat gempa dan tsunami Aceh 2004, gempa Yogyakarta 2006, gempa Bengkulu dan padang 2007, banjir Masior di Papua 2010, gunung Rokatenda NTT meletus, konflik Syiah di Sampang 2012, gempa Lombok dan Donggala, Palu 2018, banjir bandang di Lebak, Banten 2019 dan Covid-19 pada 2020 ini. Pada tingkat global Muhammadiyah mengirimkan bantuan logistik, obat-obatan dan tenaga medis saat terjadi gempa di Nepal 2015, kriris kemanusiaan di Rakhine, Myanmar 2017 dan lainnya. Hal ini membuktikan bahwa Muhammadiyah sangat concern terhadap misi kemanusiaan.

Untuk menopang misi kemanusiaan ini, Muhammadiyah telah membentuk lembaga khusus yang bernama Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Lembaga ini di-back-up oleh LAZIZMU (Lembaga Amil Zakat, Infaq dan ShadaqahMuhammadiyah) bersama semua komponen organisasi struktural dan Amal

Usaha Muhammadiyah, terutama oleh ribuan tenaga medis yang tersebar di 457 Rumah Sakit dan Rumah Bersalin di seluruh Indonesia dan para ilmuandari 173 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dengan latar belakang disiplin ilmu pengetahuan yang beragam.

B. Pandangan Muhammadiyah Mengenai Covid 19

Wabah Covid-19 termasuk bencana nasional, bahkan global. Muhammadiyah memandang bahwa Covid-19 merupakan kategori bencananon-alam. Secara historis, Covid-19 bukan merupakan wabah pandemik baru dalam sejarah perjalanan hidup manusia. Secara teologis, Covid-19 harus dipandang dalam perspektif tauhid. Virus ini merupakan makhluk Allah yang juga selalu bertasbih dan mengagungkan-Nya, sebagaimana makhluk lainnya (QS. al-Isra’ [17]: 44). Dalam pandangan Muhammadiyah, partisipasi aktif semua pihak dengan segala cara dan sekecil apapun dalam rangka pencegahan Covid-19 bernilai ibadah dan dianggap telah berpartisipasi dalam jihad kemanusiaan.  Saat pandemi Covid-19 seperti ini, Muhammadiyah memberikan tuntunan agar memperbanyak zakat, infak, dan sedekah serta memaksimalkan penyalurannya untuk pencegahan dan penanggulangan Covid-19 terutama kepada kelompok

rentan dan terdampak lainnya, seperti untuk pembelian masker, hand sanitizer, sembako dan lainnya.  Demikian sebaliknya, tindakan sengaja yang berdampak terhadap risiko penularan virus ini dianggap sebagai perbuatan zalim (Q.S. al-Maidah [5]: 32). Sikap apatis dan abai terhadap Covid-19 dapat dianggap sebagai perlawanan terhadap larangan agama yang melarang manusia mencampakkan dirinya ke dalam jurang kebinasaan (Q.S. al-Baqarah [2]: 195).

Jika partisipasi aktif telah dilakukan dalam pencegahan Covid-19, namun masih ada korban yang jatuh, maka agama memandangnya meninggal dalam keadaan mati syahid. Demikian juga terhadap tenaga medis yang meninggal saat terlibat dalam upaya penyelamatan jiwa pasien positif Covid-19 dipandang meninggal dalam keadaan Syahid.

C. Respon Muhammadiyah dalam Penanganan Covid-19

Dalam merespons wabah Covid-19, Muhammadiyah telah mengeluarkan 2 Maklumat, 1 Edaran, 1 Surat Keputusan dan 1 Surat Pimpinan Pusat. Maklumat pertama terkait Covid-19 diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tanggal 14 Maret 2020 dengan Nomor: 02/MLM/I.0/H/2020 tentang Wabah Corona Virus Disease (Covid-19). Tampaknya maklumat ini terbit setelah terjadi lonjakan pasien positif Covid-19 sebanyak 35 orang atau 1750% dalam tempo 11 hari dari yang semula berjumlah 2 orang pada saat diumumkan oleh Presiden Jokowi pada tanggal 2 Maret 2020. Pada saat yang sama, pada 14 Maret 2020, Muhammadiyah menerbitkan Surat Keputusan Nomor 2825/ KEP/ I.0/ D/ 2020 Tentang Pembentukan Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) dengan tugas mengkoordinasikan berbagai

program dalam rangka penanggulangan pandemik Covid-19. Muhammadiyah tampaknya telah mendapatkan informasi bahwa Covid-19 akan menjadi wabah pandemik dengan segala implikasi yang menyertainya.Seiring berjalannya waktu, pelan tapi pasti, eskalasi pasien positif dari hari kehari seakan tidak terbendung. Muhammadiyah mengeluarkan Maklumat ke-2 yang secara spesifik menghimbau agar Salat Jum’at diganti dengan salat zuhurdan Salat Jamaah Fardu di masjid agar dialihkan ke rumah masing-masing. Hal tersebut tertuang dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 3/I.0/B/2020 tertanggal 20 Maret tentang Penyelenggaraan Salat Jumat dan Salat Fardu.

Adapun Edaran PP Muhammadiyah Nomor 03/EDR/I.0/E/2020 Tentang Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19 berisi tentang fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid tentang hal yang sama dan diterbitkan sebanyak dua kali, pertama pada tanggal 24 Maret dan kedua pada tanggal 31 Maret. Edaran pertama diperuntukkan bagi kalangan internal Muhammadiyah, dan yang kedua juga untuk semua umat Islam. Pada 27 Maret 2020 telah terbit juga surat instruksi PP Muhammadiyah agar MCCC dibentuk di tingkat wilayah (provinsi).

Setelah memerhatikan kebijakan yang ditempuh oleh Muhammadiyah sebagaimana dalam Surat Keputusan dan Edaran tersebut, ada 3 kebijakan strategis yang ingin diambil oleh Muhammadiyah dalam menangani Covid-19, yaitu mengefektifkan social/physical distancning, pembentukan MCCC, dan bersinergi dengan pemerintah dan semua kalangan.

  1. Mengefektifkan Social Distancing (al-Taba’ud al-Ijtima’i)

Jargon Social Distancing atau Physical Distancing, Stay at Home, Work from Home,di rumah lebih baik, isolasi mandiri, isolasi kelompok dan mungkin ada jargonlainnya merupakan jargon-jargon yang paling akrab di telinga kita saat Covid-19tengah menjadi wabah pandemik. Jargon-jargon ini pada intinya memberipesan tentang pentingnya menjaga jarak fisik selama berinteraksi di tengahmasyarakat sebagai pemutus mata rantai utama penyebaran Covid-19.

Untuk mengefektifkan implimenatasi social/physical distancing ini,Muhammadiyah menetapkan beberapa keputusan sebagai panduan khususnyabagi warga Muhammadiyah sebagaimana berikut:

a. Membatalkan Agenda Strategis Persyarikatan

Untuk mengefektifkan social/physical distancing, Muhammadiyah menunda pelaksanaan Muktamar. Muktamar Muhammadiyah merupakan agenda rutin lima tahunan Muhammadiyah sebagaimana tertuang dalam AD/ART Muhammadiyah. Muktamar merupakan agenda wajib dan strategis Muhammadiyah yang melibatkan jutaan orang baik sebagai anggota, peserta dan penggembira. Muktamar merupakan media konsolidasi organisasi, evaluasiprogram, perencanaan program dan terutama untuk suskesi kepemimpinan. Kegiatan ini awalnya akan dilaksanakan pada tanggal 1-5 Juli 2020. Namun karena pandemi Covid-19, muktamar ditunda dan akan dilaksanakan pada tanggal 24-27 Desember 2020 sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Nomor 2894/KEP/I.0/B/2020. Penundaan muktamar ini dilakukan sebagai upaya preventif untuk mencegah penyebaran Covid-19. Keputusan ini pun sangat dimaklumi dan kemudian disepakati oleh Pimpianna Wilayah Muhammadiyah se-Indonesia melalui rapat pleno secara telekonferensi (teleconference) bersama Organisasi Otonom tingkat Pusat pada tanggal 21 Maret 2020.

b. Merekayasa Teknis Pelaksanaan Ibadah Mahdhah

Sebagaimana diketahui, ibadah mahdhah adalah ibadah yang dilaksanakan dengan tata-cara khusus sebagaimana diajarkan oleh Allah atau Nabi Muhammad SAW.  Dalam ibadah ini, tidak dibenarkan adanya kreativitas manusia, karena hal tersebut dipandang sebagi bid’ah. Karena itu, dalam konteks ibadah, semua ketetapan harus memiliki landasan tekstual dari al-Qur’an dan Hadis.

Dalam pandangan Muhammadiyah, ibadah salat fardu merupakan kewajiban mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar. Salat fardu harus dilaksanakan dalam kondisi dan situasi apapun. Karena itu, agama mengajarkan tata cara salat padasaat dalam kondisi darurat, seperti saat pandemi Covid-19, yang mengharuskan social/physical distancing.

Muhammadiyah memandang bahwa pandemi Covid-19 telah mengubah situasi dari kondisi normal menjadi darurat dan membawa kepada kondisi uzur. Agar virus ini tidak tersebar, semua orang harus menjaga jarak dengan orang lain. Karena itu, Muhammadiyah mengeluarkan fatwa bahwa seluruh salat jamaah dialihkan tempatnya dari masjid ke rumah masing-masing, seperti salat fardulima waktu dan salat tarawih.  Adapun salat Jum’at diganti dengan salat zuhur di rumah masing-masing juga.  Sedangkan salat jenazah diganti dengan salat gaib di rumah. Demikian juga pelaksanaan salat id beserta rangkaiannya seperti mudik ditiadakan.

Pengaturan tata cara salat ini dilakukan karena dilakukan secara berjamaah yang melibatkan konsentrasi banyak orang dan berpotensi keras sebagai media penyebaran virus ini. Karena itu, selama pandemi Covid-19 ini terjadi, pelaksanan salat Jum’at dan salat fardu berjamaah dan lainnya tidak perlu dilaksanakan di masjid atau lapangan. Hal ini didasarkan antara lain kepada postulat bahwa menghindari kemudaratan lebih diutamakan daripada mendatangkan maslahat.  Juga didasarkan pada hadis yang menyatakan bahwatidak ada kemudaratan dan pemudaratan; perintah agama dilaksanakan dengan mudah dan tidak boleh diberat-beratkan jika terdapat uzur, seperti saat pandemi Covid-19.

Dalam konteks perawatan jenazah saat pandemi Covid-19, Muhammadiyah berpendapat agar dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan. Jika dipandang darurat, untuk menghindari kontak langsung pihak keluarga ataupun tenaga medis dengan korban terpapar Covid-19,  jenazah dapat dimakamkan tanpa harus dimandikan dan dikafani. Adapun salat jenazah dapat diganti dengan salat gaib, dan kegiatan takziah dapat dilaksanakan secara daring. Dalam konteks pernikahan, Muhammadiyah memandang penyelenggaraan akad nikah harus dilakukan dengan standar protokol kesehatan. Sedangkan walimatul urusy atau resepsi pernikahan ditiadakan atau ditunda sampai kondisinormal dan kondusif.

2. Bersinergi dengan Pemerintah dan Semua Kalangan

Kepada pihak eksternal, terutama pemerintah, Muhammadiyah mendorong agar dalam mengatasi wabah ini untuk bersinergi dengan semua pihak dan mengambil langkah serta kebijakan konkret yang akuntabel dan komprehensif. Adapun kepada internal, Muhammadiyah menginstruksikan agar kegiatanpendidikan pada semua tingkatan diselaraskan dengan kebijakan Pemerintah yang dikoordinasikan oleh majelis terkait. Kepada warga juga dihimbau agars enantiasa mengikuti dan menjalankan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah agar pandemi ini segera dapat berakhir.

D. Kontribusi Muhammadiyah dibidang Rumah Sakit dalam menangani Covid-19

Sejak awal masa pandemi Muhammadiyah telah aktif terlibat dalam memerangi covid-19 dengan mendirikan Pusat Komando Muhammadiyah COVID-19 (MCCC) untuk mempercepat respons terhadap COVID-19, dengan bekerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah dan melengkapi upaya pemerintah dalam memerangi COVID-19. Sebagai bentuk dari kepedulian Muhammadiyah tersebut, hari ini Muhammadiyah meluncurkan program Mentari Covid-19 bertempat di Kantor PP Muhammadiyah Cik Di Tiro, Yogyakarta. Program Mentari Covid-19 adalah sebuah program yang bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas rumah sakit Muhammadiyah dalam penanganan Covid-19. Mentari Covid-19 ini programnya berdurasi 6 bulan, disupport sepenuhnya oleh USA id dan melibatkan 30 rumah sakit PKU Muhammadiyah Aisyiyah di seluruh Indonesia, “Ada di tujuh propinsi dan sebagian besar adalah rumah sakit rujukan yang ditunjuk pemerintah. Hampir semuanya adalah rumah sakit yang memang cukup banyak menangani pasien Covid-19,” katanya. Selain meningkatkan kapabilitas pelayanan, program ini  juga ditujukan untuk meningkatkan jalinan kerja sama antar rumah sakit Muhammadiyah Aisyiyah se-Indonesia dalam penanganan Covid-19. Terkait dengan update layanan Muhammadiyah dalam penanganan Covid-19, Agus Samsudin mengatakan hingga kini Muhammadiyah sudah menggelontorkan dana 182 milyar lebih dengan penerima manfaat mencapai lebih dari 3 juta orang. Sementara untuk pasien Covid-19 yang masih dalam perawatan mencapai 357 orang di 79 rumah sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah di seluruh Indonesia.

Agus Taufiqurrahman juga berharap bahwa program Mentari Covid-19 ini semakin menguatkan langkah dakwah Muhammadiyah di bidang kesehatan, khususnya dalam menangani pandemi Covid-19 dan menguatkan seluruh pelayanan kesehatan di Persyarikatan Muhammadiyah. Pembina Kesehatan Umum (MPKU) dan Muhammadiyah Disaster Management.

Center (MDMC) atau Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB).Dalam implementasinya, Tim MCCC berisi perwakilan dari LAZISMU, Diktilitbang, Dikdasmen, dan semua Ortom Muhammadiyah, termasuk Aisyiah. MCCC memiliki tugas pokok untuk menjalankan program-program pencegahan danpenanganan Covid-19. Sebagaimana dalam penanganan bencana secara umum, MCCC melaksanakan tugasnya dalam 3 hal, yaitu [1] mitigasi dan kesiapsiagaan, [2] tanggap darurat, dan [3] recovery pasca bencana.  Karena pandemi Covid-19 belum usai, MCCC untuk sementara ini memokuskan kegiatannya dalam 2 hal, yaitu:

Pertama, mitigasi dan kesiapsiagaan. Mitigasi dan kesiapsiagaan adalah tindakan-tindakan antisipatif dan preventif agar Covid-19 tidak semakin menyebar. Dalam konteks mitigasi dan kesiapsiagaan ini, MCCC secara aktif melakukan edukasi kepada masyarakat. Edukasi dianggap hal yang paling penting sebagai langkah awal pencegahan Covid-19 dilakukan baik secara langsung maupun melalui online.Edukasi langsung dilakukan dengan turun langung ke masyarakat untuk memberikan informasi yang cukup tentang Covid-19. Sedangkan edukasi online dilakukan dengan menyiapkan situs covid19. Muhammadiyah.id yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat untuk mendapatkan informasi dan layanan konseling tentang Covid-19. Hingga saat ini, MCCC telah melakukan sosialisasi dan edukasi untuk 12.650 orang, layanan diskusi online telah dimanfaatkan oleh 1.639 orang, layanan psikososial sebanyak 881 orang.

Kedua, tanggap darurat, yaitu serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera saat pandemi Covid-19 terjadi. Dalam laporan rutin tertanggal 27 April 2020, disebutkan bahwa MCCC telah menunjuk sebanyak 71 Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiah di seluruh Indonesia sebagai tempat rujukan pasien Covid-19 dengan rincian: 2.429 pasien ODP, 943 pasien PDP, dan 71 pasien positif Covid-19. Untuk mencegah penularan Covid-19, kepada penerima manfaat, MCCC telah mendistribusikaan 221.821 masker, 15.976 paket APD medis.MCCC juga telah membangun 26.252 titik penyemprotan dan 53.525 bilik disinfektan; membagi hand sanitizer untuk 55.250 jiwa dan disinfektan untuk 36.370 jiwa. Kepada masyarakat terdampak, MCCC telah menyalurkan bantuan sembako sebanyak84.063 paket, dan makanan untuk 3.583 jiwa.329. Semua data yang ditampilkan di atas belum termasuk kontribusi yang berasal dari 29 Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang bernilai Rp. 24.972.662.863,- untuk pembelian alat-alat medis, sembako, dan kebutuhan lainnya untuk menangani Covid-19.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Sebagai salah satu ormas terbesar di Indonesia, Muhammadiyah telah memainkan perannya yang signifikan dalam menghadapi Covid-19. Muhammadiyah dengan seluruh sumber daya yang dimiliki bersama-sama pemerintah dan ormas lain telah berpartisipasi aktif dalam mengatasi wabah pandemik ini. Pembentukan Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) dari tingkat pusat hingga wilayah (provinsi) di seluruh Indonesia sebagai bukti nyata bahwa Muhammadiyah tetap konsisten dan komitmen menjalankan misi kemanusiaan.

Peran nyata Muhammadiyah, melalui MCCC, dalam menangani Covid-19 telah diapresiasi oleh pemerintah. Dalam konferensipers pada 26 April 2020 saat menyampaikan progres Covid-19, juru bicara pemerintah pada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dr. Achmad Yurianto, menyatakan bahwa MCCC telah menjadi salah satu garda terdepandan menjadi patriot bangsa dalam menangani Covid-19, karena MCCC telah menerjunkan relawan-relawannya untuk melakukan layanan kesehatan dan melakukan edukasi tentang Covid-19, PSBB, isolasi mandiri dan kelompok.

B. Saran

Kita sebagai manusia harus saling tolong menolong dalam segala urusan dan tidak mengharapkan imbalan apapun kecuali mendapatkan ridha Allah SWT. Kita juga sebagai manusia sosial pasti kita akan keluar dari rumah untuk berbicara dengan tetangga, belajar, bekerja atau pun bahkan kewarung untuk berbelanja. Oleh karena itu dizaman virus covid-19 ini kita harus benar-benar menjaga kesehatan kita. Corona virus/covid-19 memang momok yang menakutkan bagi kita semua. Untuk mencegah dan mengurangi penyebaran virus covid-19 di Indonesia, maka kita sepatutnya sebagai warga Negara Indonesia memulai aksi diri sendiri terlebih dahulu seperti, menggunakan masker, selalu mencuci tangan, menjaga jarak dan membekali diri kita dengan pengetahuan dasar mengenai virus covid-19 ini.

DAFTAR PUSTAKA

Demikianlah artikel tentang ” MAKALAH KONSTRIBUSI MUHAMMADIYAH DIBIDANG USAHA R.S ” Jika kalian merasa belum puas kalian bisa mengunjugi link ini halangrintang.com

Leave a Reply