Semua Pengetahuan Ada Disini

Kesehatan

MAKALAH DETEKSI DAN INTERVENSI DINI PERTUMBUHAN ANAK

MAKALAH DETEKSI DAN INTERVENSI

Halangrintang.com – MAKALAH DETEKSI DAN INTERVENSI DINI PERTUMBUHAN ANAK . Kalian pasti ada tugas untuk membuat makalah deteksi dan intervensi dini pertumbuhan anak kan? Admin disini mencoba membagikan hasil makalah yang bisa mimin bagikan untuk kalian, jika ada salah kata didalam makalah mimin, mimin minta maaf sebesar-besarnya.

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirahim

Assalamualikum Wr.Wb

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmatnya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini terdiri dari pokok pembahasan mengenai Panduan Pelayanan Kesehatan Balita pada Masa Pandemi Covid-19 bagi Tenaga Kesehatan.

Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Namun, berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya makalah teori ini dapat terselesaikan dengan cukup baik. Karena itu, sudah sepantasnya jika kami mengucapkan terima kasih kepada semua dosen yang membimbing kami.

Kami sadar, sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan praktikum ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu,kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Wassalammualaikumwarohmatullahi wabarakatuh

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………………………………… i DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………………………… ii

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ………………………………………………………………………………………………. 1

B. Rumusan Masalah ………………………………………………………………………………………….. 2

C. Tujuan…………………………………………………………………………………………………………… 2

BAB II PEMBAHASAN

A. SOSIALISASI KEPADA MASYARAKAT ………………………………………………………… 3

B. PELAYANAN KESEHATAN …………………………………………………………………………… 9

C. RUJUKAN RUMAH SAKIT …………………………………………………………………………….. 21

D. PEMBIAYAAN ……………………………………………………………………………………………….. 22

E. PENCATATAN DAN PELAPORAN…………………………………………………………………. 23

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan …………………………………………………………………………………………………………. 24

B. Saran ………………………………………………………………………………………………………………….. 24

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………………………………. 25

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

COVID-19 telah dinyatakan sebagai pandemi dunia oleh WHO (WHO, 2020) dan juga telah dinyatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana melalui Keputusan Nomor 9 A Tahun 2020 diperpanjang melalui Keputusan Nomor 13 A tahun 2020 sebagai Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia. Selanjutnya dikarenakan peningkatan kasus dan meluas antar wilayah, Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Nasional Berskala Besar dalam Rangka percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), dan Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 yang menetapkan Status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat, kemudian diperbaharui dengan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Sebagai Bencana Nasional.Pada masa pandemi ini, Pemerintah harus mencegah penyebaran COVID-19 di sisi lain untuk tetap memperhatikan upaya-upaya menurunkan Angka Kematian Bayi.

Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menyediakan pelayanan kesehatan anak yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan tentang Upaya Kesehatan Anak, Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan dan NSPK terkait lainnya. Pelayanan kesehatan balita meliputi pemantauan pertumbuhan, perkembangan, pemberian imunisasi dasar dan lanjutan, kapsul vitamin A dan tata laksana balita sakit jika diperlukan, serta program pencegahan penyakit, seperti pemberian massal obat kecacingan dan triple eliminasi.

Penerapan physical distancing maupun kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membatasi mobilitas penduduk, berdampak membatasi aksesibilitas pelayanan kesehatan. Hal ini dapat menimbulkan risiko gangguan kelangsungan pelayanan kesehatan termasuk pada balita, yang berpotensi meningkatkan kesakitan dan kematian. Sehingga perlu diambil langkah- langkah untuk menyeimbangkan kebutuhan penanganan COVID-19 dan tetap memastikan kelangsungan pelayanan kesehatan esensial pada balita tetap berjalan.

1. Dalam masa penyebaran COVID-19, tenaga kesehatan yang terkait sasaran balita, memiliki peran antara lain: Melakukan koordinasi lintas program di Puskesmas/fasilitas kesehatan dalam menentukan langkah-langkah menghadapi pandemi COVID-19. Melakukan sosialisasi terintegrasi dengan lintas program lain termasuk kepada masyarakat yang memiliki balita, tentang pencegahan penyebaran COVID-19, kondisi Gawat Darurat dan informasi RS rujukan terdekat.

2. Melakukan analisa data balita berisiko yang memerlukan tindak lanjut. Melakukan koordinasi kader, RT/RW/kepala desa/kelurahan, dan tokoh masyarakat terkait sasaran anak dan pelayanan kesehatan rutin dalam situasi pandemi COVID-19.

3. Memberikan pelayanan kesehatan kepada balita dengan melakukan triase, penerapan prinsip Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dan jarak fisik (physical distancing) dalam pelayanan kesehatan yang diberikan.

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana cara sosialisasi kepada masyarakat?
  2. Bagaimana sistem pelayanan kesehatan?
  3. Bagaimana cara rujukan balita sakit?
  4. Berapakah pembiayaan?
  5. Bagaimana cara pencatatan dan pelaporan?

C. Tujuan

  1. Untuk mengetahui cara sosialisasi kepada masyarakat
  2. Untuk mengetahui sistem pelayanan kesehatan
  3. Untuk mengetahui cara rujukan balita sakit
  4. Untuk mengetahui pembiayaan
  5. Untuk mengetahui cara pencatatan dan pelaporan

BAB II PEMBAHASAN

A. SOSIALISASI KEPADA MASYARAKAT

Menghadapi masa pandemi COVID-19, masyarakat diharuskan untuk disiplin menghindari keluar rumah, menjaga jarak fisik dengan orang lain, memakai masker dan menerapkan perilaku hidup bersih sehat. Dalam rangka mencegah penularan COVID-19 pada balita dan anak pra sekolah, Puskesmas untuk mengidentifikasi keluarga dan institusi yang memiliki anggota balita dan usia pra sekolah seperti Panti/LKSA, PAUD/TK/RA untuk diberikan sosialisasi.

Sosialisasi upaya pencegahan penularan COVID-19 pada balita dan anak pra sekolah juga diiringi cara menjaga kesehatan anak. Dalam hal ini, tenaga kesehatan harus memberikan nomor telepon atau kanal informasi yang siap dihubungi masyarakat untuk tele konsultasi atau janji temu jika anak memerlukan pemantauan atau pelayanan lebih lanjut.

Tenaga kesehatan mengkoordinasikan hal-hal terkait upaya pencegahan penyebaran COVID-19 dan pemantauan kesehatan balita dan anak pra sekolah kepada kader kesehatan untuk membantu memperluas sosialisasi kepada masyarakat, pemantauan wilayah setempat diantaranya dengan memberikan umpan balik jika menemukan anak yang memerlukan pemantauan dan penanganan tenaga kesehatan.

1. Coronavirus Disease 2019 (COVID- 19)

  1. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit saluran napas yang disebabkan oleh virus corona jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia.
  2. COVID-19 pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir tahun 2019 dan dikenal dengan nama Novel Corona Virus 2019 atau SARS Coronavirus 2.
  3. COVID-19 dapat mengenai siapa saja, tanpa memandang usia, status sosial ekonomi dan sebagainya.
  4. Tanda dan gejala COVID-19 pada anak sulit dibedakan dari penyakit saluran pernapasan akibat penyebab lainnya. Gejala dapat berupa batuk pilek seperti penyakit common cold atau selesma, dengan atau tanpa demam, yang umumnya bersifat ringan dan akan sembuh sendiri. Penyakit saluran pernapasan menjadi berbahaya apabila menyerang paru-paru, yaitu menjadi radang paru atau yang disebut pneumonia. Gejala pneumonia adalah demam, batuk, dan kesulitan bernapas yang ditandai dengan napas cepat dan sesak napas. Data angka kejadian COVID-19 pada balita belum memadai, namun dari Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, vol7, 2020 disebutkan kasus COVID-19 pada usia 0-9 tahun di China 0,9%, Korea Selatan 1%, dan Italia 0,6%. Di Indonesia, berdasarkan data www.covid19.go.id per 13 Mei 2020, terdapat 15.438 terkonfirmasi diantaranya 1,4% usia balita, dari 11.123 dalam perawatan terdapat 1,6% balita GGdirawat/diisolasi, dari 3.287 dinyatakan sembuh terdapat 1,2% usia balita, dan dari 1.028 meninggal terdapat 0,7% balita meninggal. 5 Biasanya gejala pada anak ringan sehingga memiliki kemungkinan sebagai carrier, namun data COVID-19 diatas menunjukkan persentase meninggal cukup tinggi, untuk itu sangat penting mencegah penularan pada kelompok usia balita, selain mencegah risiko kematian pada bayi dan anak balita juga mencegah risiko penularan kepada pengasuh atau orang disekitarnya.

2. Langkah-langkah Pencegahan Level Individu

  1. Orang tua/pengasuh mencuci tangan sebelum dan sesudah mengasuh anak. Orang tua/pengasuh yang memerlukan keluar rumah, memakai masker saat mengasuh anak. Anak tetap tinggal di rumah, hindari mengajak anak keluar rumah. Jika terpaksa keluar rumah, pakai alat pelindung diri, tetap perhatikan untuk jaga jarak, menghindari kerumunan dan segera mandi, cuci rambut, mengganti baju sesampainya di rumah. Bagi anak umur >2 tahun, memakai masker saat memerlukan ke luar rumah untuk mencegah penularan melalui batuk dan bersin.Anak umur <2 tahun tidak dianjurkan menggunakan masker, berhati-hati memilih alat pelindung diri yang tidak menimbulkan risiko tercekik/tersedak/kesulitan napas.
  2. Membiasakan anak mencuci tangannya dengan sabun dan air bersih lebih sering yaitu sebelum makan, setelah buang air, sebelum dan setelah melakukan aktivitas (bermain, menyentuh hewan, dsb). Penggunaan hand sanitizer hanya alternatif apabila tidak tersedia air mengalir dan sabun, misalnya jika jauh dari sarana cuci tangan.
  3. Mengingatkan anak untuk tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
  4. Membersihkan benda-benda yang sering disentuh seperti perabot, gagang pintu, mainan, gawai dan lain-lain dengan desinfektan secara berkala.
  5. Orang tua mengajari anak untuk menerapkan praktik pencegahan infeksi dengan metode menarik:
    1. Cuci tangan dengan air bersih dan sabun,
      • menyanyikan lagu sambil mencuci tangan untuk berlatih mencuci tangan atau menggunakan handsanitizier minimal selama 40-60 detik
      • memberi hadiah untuk mencuci tangan yang sering/tepat waktu
    2. Etika bersin, batuk
      • Gunakan boneka untuk menunjukkan cara menutup mulut dengan siku tangan atau tisu pada saat bersin atau batuk.
    3. Cara memakai masker bagi anak usia > 2 tahun:
      • Ajari anak mencuci tangan sebelum dan sesudah memakai masker
      • Pastikan masker menutup mulut, hidung dan dagu Hindari menyentuh masker saat memakainya, minta anak mencuci tangan jika menyentuh masker
      • Melepas masker dengan hanya menyentuh talinya untuk segera dicuci.
  6. Membersihkan mainan:
    1. Libatkan anak membersihkan mainannya dengan cara misalnya meminta menghitung mainan yang telah dibersihkan dalam satu keranjang
    2. Cara membersihkan mainan dari bahan plastic keras yang digunakan oleh anak balita yang masih sering memasukkan mainan ke dalam mulut:
      • Cuci menggunakan air hangat yang telah dicampur dengan sabun Gunakan sikat bergagang untuk membersihkan menjangkau seluruh bagian mainan
      • Bilas dengan air mengalir
      • Setelah dibilas, rendam selama 10-20 menit dalam larutan yang mengandung desinfektan (alcohol 70% atau desinfektan yang dibuat dari campuran antara 2 sendok makan larutan pemutih ke dalam 1 liter air)
      • Setelah direndam bilas dengan air mengalir dan biarkan kering dengan sendirinya. Hindari menggunakan handuk untuk mengeringkan mainan. Mainan dapat juga dikeringkan menggunakan tissue sekali pakai.
      • Simpan mainan yang telah dibersihkan dalam wadah bersih dan terhindar dari debu dan percikan air Mainan yang tidak lagi dimasukkan ke mulut, 7 dibersihkan dengan sabun dan air serta dikeringkan dengan sendirinya. Mainan dari bahan kain dicuci menggunakan air panas

3. Cara Menjaga Kesehatan Anak Secara Mandiri di Rumah

  1. Balita yang belum mendapatkan Buku KIA, bisa mengunduh di (http://kesga.kemkes.go.id/images/pedoman/BUKU%20KIA%202019.pdf).
  2. Pemenuhan asupan gizi seimbang sesuai umur anak mengacu informasi pada Buku KIA. Konseling menyusui, dukungan psikososial dasar dan dukungan praktek pemberian makan harus diberikan kepada semua ibu yang mempunyai Mainan yang tidak lagi dimasukkan ke mulut, dibersihkan dengan sabun dan air serta dikeringkan dengan sendirinya. Mainan dari bahan kain dicuci menggunakan air panas.anak, termasuk ibu sebagai OTG, ODP, atau PDP. Inisiasi menyusu dini (IMD) diupayakan tetap dilakukan, sambil melakukan upaya pencegahan penularan infeksi. Sebaiknya tetap berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Namun, bayi yang lahir dari ibu OTG/ODP/PDP/Terkonfirmasi, tidak dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
    • Bayi baru lahir sampai dengan berumur 6 bulan diberikan Air Susu Ibu saja (ASI Eksklusif).
    • Bayi umur 6 bulan sampai 2 tahun lanjutkan pemberian ASI ditambah Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) sesuai anjuran Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) yang baik dan benar.
    • Anak umur 2 tahun keatas diberikan makanan keluarga yang memenuhi gizi seimbang.
    • Bayi yang lahir dari ibu OTG/ODP tidak diperbolehkan IMD namun selanjutnya bisa mendapatkan ASI dengan menyusu langsung dari ibu, setelah berdiskusi dengan tenaga kesehatan menimbang keuntungan dan kerugian menyusu langsung, serta kepatuhan ibu dalam mencegah penularan, antara lain menggunakan masker bedah, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir 8 sebelum dan sesudah kontak bayi, dan rutin membersihkan area permukaan dimana ibu melakukan kontak. Dalam keadaan tidak bisa menjamin prosedur perlindungan saluran napas dan pencegahan transmisi melalui kontak, maka bayi diberikan ASI perah.
    • Bayi yang lahir dari ibu PDP atau terkonfirmasi COVID-19, diberikan ASI perah. Pompa ASI hanya digunakan oleh ibu tersebut dan dilakukan pembersihan pompa setelah digunakan, kebersihan peralatan untuk memberikan ASI perah harus diperhatikan. Ibu dan bayi dimonitor ketat dan dilakukan rawat terpisah (atas persetujuan ibu) sampai diketahui hasil pemeriksaan COVID-19 ibu negatif serta perlu di follow up hingga pulang.
  3. Stimulasi perkembangan dilakukan keluarga setiap saat dalam suasana menyenangkan, dan pemantauan (deteksi) perkembangan dilakukan keluarga setiap bulan sesuai umur anak, mengacu informasi pada Buku KIA. Tools pemantauan perkembangan dalam Buku KIA tersedia dalam rentang umur 0-3 bulan, 3-6 bulan, 6-12 bulan, 1-2 tahun, 2-3 tahun, 3-5 tahun dan 5-6 tahun. lanjut hasil pemantauan (deteksi) perkembangan: Hasil deteksi perkembangan sesuai umur anak (pemantauan perkembangan dengan Buku KIA didapatkan hasil semua checklist perkembangan terisi): lanjutkan stimulasi sesuai umur anak.
  4. Mengenali tanda bahaya/tanda balita sakit, mengacu informasi Buku KIA. Selama masa tanggap darurat COVID-19, tunda membawa anak ke fasilitas kesehatan, kecuali gawat darurat. Kenali tanda bahaya/gawat darurat yang memerlukan penanganan di fasilitas kesehatan:
    • Sesak napas atau biru pada bibir
    • Diare terus menerus atau muntah disertai lemas
    • Nyeri perut hebat
    • Perdarahan terus menerus
    • Kejang atau penurunan kesadaran atau kelumpuhan
    • Demam tinggi 3 hari atau demam pada bayi baru lahir
    • Kecelakaan
    • Keracunan, menelan benda asing, digigit hewan berbisa

Jika balita anda mengalami gejala berikut ini, berikan minum air putih yang cukup, sari buah atau larutan elektrolit, dan segera melakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan melalui daring/telepon sebelum ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat:

Saat berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan, lakukan tindakan berikut:

  • Usahakan membuat janji temu dengan pemberi pelayanan agar tidak menunggu terlalu lama.
  • Orang tua dan anak umur > 2 tahun memakai masker sejak dari rumah. Anak umur < 2 tahun tidak dianjurkan memakai masker, pilihkan pelindung mulut dan hidung yang tidak menimbulkan risiko tercekik/tersedak/kesulitan napas.
  • Upayakan tidak menggunakan transportasi umum.
  • Langsung cuci tangan dengan sabun dan air mengalir begitu sampai di fasilitas pelayanan kesehatan.
  • Jaga jarak minimal 1 meter dengan orang sekitar dan upayakan tidak menyentuh apapun jika tidak diperlukan.
  •  Selesai pelayanan segera kembali ke rumah, ikuti protokol tata cara masuk rumah setelah berpergian (segera mandi dan ganti baju).

4. Kelas Ibu Balita Ditunda Pelaksanaannya dengan Cara Pertemuan Tatap Muka.

Tujuan kelas ibu balita untuk mendampingi kelompok ibu memahami isi Buku KIA, dapat dicapai dengan alternatif:

  • Telegram diskusi dengan daring
  • Video tutorial
  • Lembar penugasan yang disampaikan terintegrasi kegiatan kunjungan rumah.

5. Identifikasi Anak yang Memerlukan Perlindungan

Pandemi COVID-19 mempengaruhi pengasuhan dan perlindungan anak dan ada sejumlah kerentanan yang harus menjadi perhatian dari pihak berwenang. Perhatian utama terkait keadaan atau status kesehatan, diberikan pada Anak dengan status Orang tanpa Gejala (OTG), Orang dalam Pemantauan (ODP), Pasien dalam Pengawasan (PDP), 10 termasuk dalam kasus di mana orangtua atau pengasuh atau anggota keluarganya merupakan kasus positif COVID-19. Anak yang mengalami kesulitan isolasi mandiri atau masalah pengasuhan karena terdampak COVID-19 dapat dibantu Dinas yang membawahi urusan perlindungan anak dan urusan social.

B. PELAYANAN KESEHATAN

  1. Pelayanan Kesehatan Luar Gedung Pelayanan kesehatan rutin balita Sehat di luar gedung diselenggarakan sesuai kebijakan Pemerintah Daerah dengan mematuhi prinsip pencegahan pengendalian infeksi dan physical distancing. WIlayah kerja belum memberlakukan kebijakan PSBB atau tidak terdapat kasus COVID-19, jika melaksanakan Posyandu untuk memenuhi persyaratan ketat. Yang dimaksud dengan pelayanan balita di Posyandu mematuhi persyaratan ketat, sebagai berikut:
    1. Ketentuan Pemerintah Daerah setempat (kepala desa/lurah).
    2. Pembatasan jumlah orang:
      • Mensyaratkan tenaga kesehatan, kader dan anak serta orang tua/pengasuh dalam keadaan sehat.
      • Kader membantu memastikan hal tersebut denganmenskrining suhu tubuh yang diperkenankan ≤ 37,5°C dan tidak ada gejala batuk/pilek.
      • Mengatur jadwal waktu berdasarkan kelompok umur. Contoh: Jam 08.00 – 09.00: sasaran umur 0-11 bulan Jam 09.00 – 10.00: sasaran umur 12-24 bulan Jam 10.00 – 11.00: sasaran umur 24-36 bulan Jam 11.00 – 12.00: sasaran umur 36 – 59 bulan.

3. Pemberitahuan bagi masyarakat sasaran pelayanan yang diterima sebelum hari pelayanan, diantaranya:

a. Sasaran anak dan pengantar dalam keadaan sehat (disarankan hanya satu orang pengantar).

b. Pemakaian masker (minimal masker kain) bagi pengantar dan anak umur > 2 tahun. 11

c. Orang tua membawa Buku KIA dan telah melengkapi checklist pemantauan perkembangan sesuai umur anak, serta membawa kain untuk penimbangan.

d. Informasi jadwal dan jenis pelayanan. contoh:

• Senin tanggal 18 Mei 2020

Jam 08.00 – 09.00 :

* Bayi umur 0-11 bulan

* Pelayanan: – Imunisasi – Pemantauan tumbuh kembang Jam 09.00 – 10.00

* Anak umur 12-24 bulan

* Pelayanan: – Imunisasi untuk anak umur 18 bulan – Pemantauan tumbuh kembang

4. Tempat pelayanan berupa ruangan cukup besar dengan sirkulasi udara keluar masuk yang baik. Atur pintu masuk dan keluar dengan jalur berbeda.

5. Memastikan area tempat pelayanan dibersihkan sebelum dan sesudah pelayanan sesuai dengan prinsip pencegahan penularan infeksi.

6. Menyediakan fasilitas CTPS, handsanitizer atau cairan desinfektan bagi tenaga kesehatan, kader dan sasaran anak serta pengantar di pintu masuk dan di area pelayanan.

7. Mengatur jarak meja pelayanan:

  • Jaga jarak minimal 1 meter antar petugas
  • Jaga jarak minimal 1 meter antar petugas dan sasaran
  • Jaga jarak minimal 1 meter antar sasaran

8. Membatasi jenis pelayanan kesehatan.

Pemberian Vitamin A pada bulan Februari dan Agustus :

  • Umur 6 – 11 bulan : 1 kapsul 100.000 IU (biru)
  • Umur 12 – 59 bulan : 1 kapsul 200.000 IU (merah)
  • sebanyak 2 kali setahun

Jenis imunisasi menurut umur

  • Umur < 24 jam: Hepatitis B bayi baru lahir
  • Umur 1 bulan: BCG, OPV 1
  • Umur 2 bulan: DPT/HB/Hib1, OPV 2, PCV 1*
  • Umur 3 bulan: DPT/HB/Hib 2, OPV 3, PCV 2*
  • Umur 4 bulan: DPT/HB/Hib 3, OPV 4, IPV f. Umur 9 bulan : Campak-Rubella1 g. Umur 10 bulan: JE** h. Umur 12 bulan: PCV 3* i. Umur 18 bulan: DPT/HB/Hib4, Campak-Rubella2
  • Umur 9 bulan : Campak-Rubella1 g. Umur 10 bulan: JE**
  • Umur 12 bulan: PCV 3*
  • Umur 18 bulan: DPT/HB/Hib4, Campak-Rubella2

Catatan: *

Imunisasi PCV hanya diberikan di Provinsi NTB dan Babel **

Imunisasi JE hanya diberikan di Provinsi Bali

Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan dapat dilakukan dengan mempertimbangkan:

  • Pengaturan jadwal berdasarkan kelompok umur yang sama, untuk mempercepat waktu pelayanan.
  • Pengisian ceklist perkembangan oleh keluarga, dan pemilihan 1-2 indikator kunci perkembangan tiap kelompok umur.

Pelayanan kesehatan yang tidak dilakukan di Posyandu, dapat dilakukan terintegrasi jenis pelayanan dalam janji temu.Wilayah kerja terdapat kebijakan PSBB atau terdapat kasus COVID-19, untuk menunda pelayanan kesehatan balita di Posyandu.

Pelayanan dilakukan melalui telekonsultasi/janji temu di fasilitas kesehatan/puskesmas keliling/kunjungan rumah, sebagai berikut:

  1. Pelayanan dapat ditunda:
    • obat massal cacingan
  2. Pelayanan dilakukan mandiri di rumah mengacu pada Buku KIA, atau dengan telekonsultasi:
    • Pemantauan perkembanga
    • Pemantauan pertumbuhan
    • Asupan gizi seimbang sesuai umur
  3. Pelayanan dilakukan melalui janji temu di fasilitas kesehatan atau kunjungan
    • Anak yang belum mendapat imunisasi dasar lengkap dan lanjutan. Anak yang berisiko berat badan kurang
    • Anak gizi buruk (BB/PB atau BB/TB dibawah -3 SD)
    • Distribusi makanan tambahan dapat terus dilakukan sesuai dengan kebutuhan balita

II. Pelayanan Balita Sakit di Puskesmas

1. Tenaga kesehatan, pasien anak dan pengantar menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai.

2. Memastikan akses tenaga kesehatan dan pasien terhadap fasilitas cuci tangan (sabun dan air bersih, atau hand sanitizer dengan kandungan alkohol 70%) selama pemeriksaan.

3. Jaga jarak pelayanan minimal 1 meter, mulai dari pendaftaran, ruang tunggu dan ruang pemeriksaan. Pastikan ventilasi memadai untuk sirkulasi udara keluar masuk.

4. Menerapkan triage, memisahkan ruang tunggu dan ruang pemeriksaan, sebagai berikut:

  • Anak dengan gejala batuk/pilek/sakit tenggorok/demam dipisahkan dari
  • Anak tidak ada gejala batuk/pilek/sakit tenggorok/demam.

5. Menentukan status balita sakit dengan memperhatikan :

  • faktor risiko riwayat kontak dengan PDP/ terkonfirmasi COVID-19, atau tinggal/ berkunjung ke wilayah terjangkit COVID-19.
  • gejala batuk/pilek/sakit tenggorokan/ demam.
  • penyakit penyerta/komorbid seperti kanker/ diabetes/jantung/autoimun/dan lain-lain

6. Alur pelayanan disesuaikan untuk menghindari penumpukan pasien. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)

a. APD untuk anak/pengasuh:

  • Masker bedah untuk status pasien di fasilitas kesehatan.
  • Masker kain sebagai alternatif pelindung diri saat batuk/pilek, atau saat keluar rumah.

Indikasi penggunaan masker pada anak:

  1. Anak berusia di atas 2 tahun
  2. Saat anak sedang sakit (mengalami demam, flu, atau batuk).
  3. Ketika anak berada di luar rumah.

b. APD untuk tenaga kesehatan di pelayanan posyandu/ kunjungan memakai alat pelindung diri yang sesuai dengan prinsip PPI sebelum memulai pelayanan:

  • Masker bedah/masker medis 14
  • Sarung tangan bila tersedia.Sarung tangan harus diganti untuk setiap satu sasaran anak. Jangan menggunakan sarung tangan yang sama untuk lebih dari satu anak. Bila sarung tangan tidak tersedia, petugas mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setiap sebelum dan sesudah pelayanan kepada sasaran
  • Alat pelindung diri lain apabila tersedia, seperti pelindung mata dan wajah, gaun atau apron.

c. APD untuk tenaga kesehatan yang bertugas di ruang konsultasi/ pemeriksaan, dibedakan menjadi:

  1. Melakukan pemeriksaan fisik pada pasien tanpa gejala infeksi saluran pernapasan:
    • Penutup kepala
    • Masker bedah
    • Sarung tangan
    • Baju kerja dan
    • Alas kaki.
  2. Melakukan pemeriksaan fisik pada pasien dengan gejala infeksi saluran pernapasan menggunakan:
    • Masker bedah,
    • Gaun,
    • Sarung tangan,
    • Pelindung mata atau wajah,
    • Pelindung kepala,
    • Sepatu pelindung.

7. Tentukan status balita sakit dengan menelusuri faktor risiko kontak dengan orang terkonfirmasi COVID-19 atau riwayat bepergian ke wilayah transmisi lokal, serta memeriksa gejala terkait COVID-19 (lihat pada bagan alur pelayanan balita sakit masa pandemi COVID-19)

a. Orang tanpa Gejala Balita yang tidak bergejala DAN memiliki kontak erat dengan orang terkonfirmasi COVID-19, dalam 2 hari sebelum kasus timbul hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala.

b. Orang dalam Pemantauan (ODP) dikategorikan dengan salah satu kriteria sebagai berikut:

c. Pasien dalam Pengawasan (PDP) balita dikategorikan dengan salah satu kriteria sebagai berikut:

8. Tata laksana Tata laksana kasus COVID-19 pada anak mengikuti pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 yang berlaku\

a. Secara umum, tata laksana COVID-19 ditentukan dengan:

  • faktor risiko kontak erat dengan PDP/terkonfirmasi COVID-19, atau tinggal/bepergian ke wilayah terjangkit COVID-19.
  • gejala terkait COVID-19 (demam dan atau batuk/pilek/sakit tenggorokan)
  • penyakit penyerta/komorbid

b. Bila terdapat penyakit penyerta/komorbid (seperti Kanker, Diabetes, TB, HIV, Ginjal, Konsumsi Obat Imunosupresan, dll) segera koordinasikan petugas terkait.

c. Anak dengan penyakit penyerta dianjurkan untuk tetap melanjutkan pengobatan yang rutin dikonsumsi, dengan mengupayakan pembatasan pertemuan/kontak (frekuensi pengambilan obat lebih jarang atau dapat diwakili orang tua jika tidak ada keluhan).

d. Anak dengan komorbid TB:

  • Bila dalam pemeriksaan ODP dan PDP COVID-19 ditegakkan juga menjadi pasien TB baru, maka perawatan PDP dilakukan di RS dalam tata laksana PDP.
  • Bila ODP maka harus isolasi diri 14 hari sambil menunggu hasil swab COVID19 18
  • Untuk pasien TB yang menjadi PDP gejala sedang/berat maka terapi dilanjutkan di RS tempat PDP dirawat.

e. Anak dengan komorbid Diabetes yang harus isolasi mandiri di rumah direkomendasikan untuk meningkatkan frekuensi pengukuran kadar glukosa, dan berkonsultasi dengan dokter untuk penyesuaian dosis bila target glukosa tidak tercapai.

f. Anak yang tidak termasuk kategori OTG, ODP atau PDP diberikan pelayanan kesehatan sesuai standar praktik kedokteran yang berlaku.Apabila tidak ada dokter di Puskesmas, maka pelayanan kesehatan anak dilaksanakan menggunakan pendekatan MTBS.Jika timbul Pneumonia Berat, evaluasi sesuai alur PDP.

Tanpa Gejala (OTG)

a. Lapor ke Dinas Kesehatan setempat/hotline COVID-19.

b. Karantina mandiri/isolasi diri di rumah selama 14 hari.▷ Edukasi isolasi mandiri dan PHBS.

c. Koordinasi dengan tim penanganan COVID-19 untuk dilakukan:

  1. Pemantauan berkala selama 14 hari sejak kontak terakhir dengan kasus positif COVID-19, untuk mengevaluasi perburukan gejala (menggunakan form pemantauan).
  2. Pengambilan spesimen pada hari ke-1 dan ke-14 untuk pemeriksaan RT PCR.
  3. Pemeriksaan Rapid Test apabila tidak tersedia fasilitas pemeriksaan RT PCR, apabila hasil pemeriksaan pertama menunjukkan hasil:
    • NEGATIF, tata laksana selanjutnya adalah karantina mandiri dengan menerapkan PHBS dan physical distancing, dan pemeriksaan ulang pada 10 hari berikutnya. Jika hasil pemeriksaan ulang positif, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan RT PCR sebanyak 2 kali selama 2 hari berturutturut di laboratorium pemeriksa yang mampu melakukan pemeriksaan RT PCR.
    • POSITIF, selanjutnya dilakukan karantina mandiri dengan menerapkan PHBS dan physical distancing, dan pemeriksaan RT PCR sebanyak 2 kali selama 2 hari berturut-turut di laboratorium yang mampu melakukan pemeriksaan RT PCR.

Orang Dalam Pemantauan (ODP)

  1. Lapor ke Dinas Kesehatan setempat/hotline COVID-19
  2. Isolasi di rumah selama 14 hari dan pemantauan
  3. Tata laksana umum (gizi seimbang dan asupan cairan cukup)
  4. Tata laksana simtomatik, seperti demam bila perlu ▷ Edukasi isolasi mandiri dan PHBS.
  5. Koordinasi dengan tim penanganan COVID-19 untuk: 19
    • Melakukan pemantauan harian selama 14 hari untuk mengevaluasi perburukan gejala (menggunakan form pemantauan).
    • Pemeriksaan spesimen pada hari ke-1 dan ke-2 untuk pemeriksaan RT PCR.Jika tidak tersedia fasilitas pemeriksaan RT PCR, dilakukan pemeriksaan Rapid Test.

f. Untuk daerah endemis tinggi malaria, koordinasi dengan petugas malaria untuk melakukan pemeriksaan darah malaria dengan RDT. Balita yang hasil pemeriksaan RDT positif malaria maka diobati sesuai dengan pedoman tata laksana malaria atau sebagaimana lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 556 Tahun 2019 tentang PNPK Tata laksana Malaria. Ingatkan juga untuk tidur dengan kelambu anti nyamuk.

Pasien Dalam Pengawasan (PDP)

  1. Lapor ke Dinas Kesehatan setempat/hotline COVID-19
  2. Karantina mandiri/isolasi di rumah selama 14 hari bagi PDP gejala ringan
  3. Tata laksana umum (gizi seimbang dan asupan cairan cukup)
  4. Tata laksana simtomatik, seperti demam bila perlu
  5. Antibiotik jika terindikasi
  6. Edukasi isolasi mandiri dan PHBS.
    • Pemantauan harian selama 14 hari sejak mulai munculnya gejala, untuk mengevaluasi perburukan gejala (menggunakan form pemantauan).
    • Pengambilan spesimen pada hari ke-1 dan ke-2 untuk pemeriksaan RT PCR.Jika tidak tersedia fasilitas pemeriksaan RT PCR, dilakukan pemeriksaan Rapid Test.
  7. Edukasi prosedur pencegahan dan pengendalian infeksi untuk isolasi di rumah:
    • Tempatkan anak dan pengasuh dalam ruangan tersendiri yang memiliki ventilasi yang baik.
    • Batasi pergerakan dan minimalkan berbagi ruangan yang sama. Pastikan ruangan bersama (seperti dapur, kamar mandi) memiliki ventilasi yang baik.
    • Anggota keluarga yang lain sebaiknya tidur di kamar yang berbeda, dan jika tidak memungkinkan maka jaga jarak minimal 1 meter (tidur di tempat tidur berbeda).
    • Batasi jumlah orang yang merawat. Idealnya satu orang yang benar-benar sehat tanpa memiliki gangguan kesehatan lain atau gangguan kekebalan. Pengunjung/penjenguk tidak diizinkan.
    • Orang tua/pengasuh dengan anak yang dirawat, tinggal di ruangan setiap saat sampai hasil tes negatif. Baik anak dan orang tua harus mengenakan masker bedah saat pergi keluar ruangan dengan alasan apapun.
    • Cuci tangan setiap memegang anak atau menyentuh benda disekitarnya. Lakukan cuci tangan sebelum dan setelah menyiapkan makanan, sebelum makan, setelah dari kamar mandi, dan kapanpun tangan kelihatan kotor. Jika tangan tidak tampak kotor dapat menggunakan hand sanitizer, danuntuk tangan yang kelihatan kotor menggunakan sabun dan air. Jika mencuci tangan menggunakan sabun dan air, handuk kertas sekali pakai direkomendasikan. Jika tidak tersedia bisa menggunakan handuk bersih dan segera ganti jika sudah basah.
    • Untuk mencegah penularan melalui droplet, anak umur > 2 tahun sesering mungkin memakai masker bedah. (Jika tidak tersedia memaikai masker kain).
    • Orang yang memberikan perawatan sebaiknya menggunakan masker bedah terutama jika berada dalam satu ruangan dengan anak. Masker tidak boleh dipegang selama digunakan.Jika masker kotor atau basah segera ganti dengan yang baru. Buang masker dengan cara yang benar (jangan disentuh bagian depan, tapi mulai dari bagian belakang, dengan hanya menyentuh bagian tali). Buang segera dan segera cuci tangan.
    • Hindari kontak langsung dengan cairan tubuh terutama cairan mulut atau pernapasan (dahak, ingus dll) dan tinja. Gunakan sarung tangan dan masker jika harus memberikan perawatan mulut atau saluran napas dan ketika memegang tinja, air kencing dan kotoran lain. Cuci tangan sebelum dan sesudah membuang sarung tangan dan masker.
    • Jangan gunakan masker atau sarung tangan yang telah terpakai.
    • Bersihkan permukaan di sekitar anak termasuk toilet dan kamar mandi secara teratur. Sabun atau detergen rumah tanggadapat digunakan, kemudian desinfektan yang mengandung 0,5% natrium hipoklorit (yaitu setara dengan 5000 ppm) dengan perbandingan 1 bagian disinfektan untuk 9 bagian air.
    • Sediakan sprei dan alat makan khusus untuk anak (cuci dengan sabun dan air setelah dipakai dan dapat digunakan kembali). cuci dengan suhu air 60-90°C dengan detergen dan keringkan. Tempatkan pada kantong khusus dan jangan digoyang-goyang, dan hindari kontak langsung kulit dan pakaian dengan bahan-bahan yang terkontaminasi. Buang popok sekali pakai atau bekas buang air besar anak di kamar mandi
    • Bersihkan pakaian anak, sprei, handuk, dll menggunakan sabun cuci rumah tangga dan air atau menggunakan mesin atau bungkus rapat dengan kantong plastik lalu buang di tempat sampah.
    • Sarung tangan dan apron plastic sebaiknya digunakan saat membersihkan permukaan anak, baju, atau bahan-bahan lain yang terkena cairan tubuh anak. Sarung tangan (yang bukan sekali pakai) dapat digunakan kembali setelah dicuci menggunakan sabun dan air dan didekontaminasi dengan desinfektan yang mengandung 0,5% natrium hipoklorit (yaitu setara dengan 5000 ppm) dengan perbandingan 1 bagian disinfektan untuk 9 bagian air. Cuci tangan sebelum dan setelah menggunakan sarung tangan.
    • Sarung tangan, masker dan bahan-bahan sisa lain selama perawatan harus dibuang di tempat sampah di dalam ruangan/ kamar yang kemudian ditutup rapat sebelum dibuang sebagai kotoran infeksius.

C. RUJUKAN BALITA SAKIT

Anak yang ditentukan sebagai PDP gejala sedang atau berat memerlukan rujukan untuk perawatan di rumah sakit. Dalam pelaksanaan rujukan COVID-19 tidak boleh terjadi rujukan lepas atau terputusnya alur rujukan balik. Hal ini meningkatkan risiko penularan COVID-19.

Prosedur penyiapan transportasi untuk rujukan ke RS rujukan sebagai berikut:

  1. Menghubungi RS rujukan untuk memberikan informasi pasien dalam pengawasan yang akan dirujuk.
  2. Petugas yang akan melakukan rujukan harus secara rutin menerapkan kebersihan tangan dan mengenakan masker dan sarung tangan medis ketika membawa pasien ke ambulans.
  3. Jika merujuk anak dengan status PDP COVID-19 maka petugas menerapkan kewaspadaan kontak, droplet dan airborne. 22
  4. APD harus diganti setiap menangani pasien yang berbeda dan dibuang dengan benar dalam wadah dengan penutup sesuai dengan peraturan nasional tentang limbah infeksius.
  5. Pengemudi ambulans menggunakan APD yang sesuai. Bila pengemudi juga harus membantu memindahkan pasien ke ambulans, maka pengemudi harus menggunakan APD yang sesuai.
  6. Pengemudi dan perawat pendamping rujukan harus sering membersihkan tangan dengan alkohol dan sabun.
  7. Ambulans atau kendaraan angkut harus dibersihkan dan didesinfeksi dengan perhatian khusus pada area yang bersentuhan dengan pasien dalam pengawasan. Pembersihan menggunakan desinfektan yang mengandung 0,5% natrium hipoklorit (yaitu setara dengan 5000 ppm) dengan perbandingan 1 bagian disinfektan untuk 9 bagian air.

D. PEMBIAYAYAN

Berdasarkan SE Menteri Kesehatan Nomor HK.02.01/MENKES/215/2020 tentang Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus Bidang Kesehatan untuk Pencegahan dan/atau Penanganan Coronavirus Disease 2010 (COVID-19) tahun anggaran 2020, pembiayaan kegiatan luar gedung dapat menggunakan Dana Alokasi Khusus Non Fisik bidang kesehatan (BOK Provinsi, Kab/Kota/Puskesmas) untuk membiayai:

  1. Kebutuhan untuk kegiatan surveilans dan intervensi fakor risiko kesehatan lingkungan seperti APD, marker, hand sanitizer, sarung tangan, bahan disinfektan, dan formulir penyelidikan epidemiologi (PE) dan pemantauan kontak.
  2. Lingkup kegiatan program kesehatan masyarakat berupa promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, penyehatan lingkungan, dan gizi masyarakat, termasuk untuk kegiatan yang ditujukan untuk pencegahan dan/atau penanganan COVID-19.
  3. Sedangkan kegiatan rutin luar gedung lainnya termasuk kegiatan kesehatan keluarga, imunisasi dan posyandu tetap dapat menggunakan dana BOK dengan mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 86 Tahun 2019 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Non Fisik Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2020

Pembiayaan tersebut mencakup ODP usia kurang dari 60 (enam puluh) tahun dengan penyakit penyerta, Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Konfirmasi COVID-19 dalam hal ini termasuk kelompok usia balita. Pembiayaan mencakup pelayanan pada rawat jalan dan rawat inap meliputi:

administrasi pelayanan, akomodasi (kamar dan pelayanan di ruang gawat darurat, ruang rawat inap, ruang perawatan intensif, dan ruang isolasi), jasa dokter, tindakan di ruangan, pemakaian ventilator, bahan medis habis pakai, pemeriksaan penunjang diagnostik (laboratorium dan radiologi sesuai dengan indikasi medis), obat-obatan, alat kesehatan termasuk penggunaan APD di ruangan, rujukan, pemulasaran jenazah, dan pelayanan kesehatan lain sesuai indikasi medis.

E. PENCATATAN DAN PELAPORAN

Pada masa pandemi COVID-19 yang menerapkan physical distancing, Buku KIA sebagai alternatif utama untuk mencatatkan hasil pemantauan kesehatan anak di rumah, atau pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berbeda. Puskesmas melaksanakan pemantauan wilayah setempat bagi sasaran balita dan anak pra sekolah melalui Register Kohort sebagai sumber data kesehatan anak, diantaranya:

1. Notifikasi data anak berisiko yang memerlukan tindak lanjut, termasuk diantaranya:

  • anak masalah gizi
  • anak lahir dari ibu HIV, Sifilis, Hepatitis
  • anak belum mendapat imunisasi
  • anak dengan penyakit penyerta/komorbid
  • anak OTG, ODP, PDP, terkonfirmasi.

2. Pencatatan hasil pelayanan:

  • pemantauan tumbuh kembang
  • pelayanan kesehatan anak lainnya.

3. Pencatatan kelahiran dan kematian

4. Sumber data pelaporan pelayanan kesehatan anak Pencatatan dalam register kohort dapat dikompilasi melalui kesempatan kunjungan terjadwal atau telekomunikasi dengan melampirkan catatan Buku KIA/Buku lainnya.

Pelaporan cakupan pelayanan kesehatan anak menggunakan register kohort bayi atau register kohort anak balita dan prasekolah dengan menghitung pelayanan yang didapatkan selama setahun hingga tepat ulang tahun ke 1, 2, 3, 4, 5 pada tahun berjalan. Perhitungan cakupan standar pelayanan minimal balita selama pandemi COVID-19 dapat memperhitungkan pelayanan mandiri di rumah, yang diyakini benar dibuktikan dengan Buku KIA (pemantauan tumbuh kembang) atau buku catatan lainnya. Kegiatan pencatatan dan pelaporan distribusi pemberian makanan tambahan tetap dilakukan seperti biasa.

Pencatatan dan pelaporan balita dan anak prasekolah yang berada dalam status OTG, ODP, PDP dan terkonfirmasi COVID-19 dilaporkan oleh Puskesmas secara berjenjang ke Dinas Kesehatan Kab/Kota, Provinsi dan Kemenkes (PHEOC Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit). Penanggungjawab kesehatan anak memantau adanya kelompok umur balita dan anak prasekolah melalui koordinasi dengan tim penyelidikan epidemiologi, selanjutnya untuk ditindaklanjuti.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Menghadapi masa pandemi COVID-19, masyarakat diharuskan untuk disiplin menghindari keluar rumah, menjaga jarak fisik dengan orang lain, memakai masker dan menerapkan perilaku hidup bersih sehat. Dalam rangka mencegah penularan COVID-19 pada balita dan anak pra sekolah, Puskesmas untuk mengidentifikasi keluarga dan institusi yang memiliki anggota balita dan usia pra sekolah seperti Panti/LKSA, PAUD/TK/RA untuk diberikan sosialisasi. Sosialisasi upaya pencegahan penularan COVID-19 pada balita dan anak pra sekolah juga diiringi cara menjaga kesehatan anak. Dalam hal ini, tenaga kesehatan harus memberikan nomor telepon atau kanal informasi yang siap dihubungi masyarakat untuk tele konsultasi atau janji temu jika anak memerlukan pemantauan atau pelayanan lebih lanjut.

B. Saran

25 Tenaga kesehatan mengkoordinasikan hal-hal terkait upaya pencegahan penyebaran COVID-19 dan pemantauan kesehatan balita dan anak pra sekolah kepada kader kesehatan untuk membantu memperluas sosialisasi kepada masyarakat, pemantauan wilayah setempat diantaranya dengan memberikan umpan balik jika menemukan anak yang memerlukan pemantauan dan penanganan tenaga kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Direktorat Kesehatan ,Buku Panduan Pelayanan Kesehatan Balita pada Masa Pandemi COVID-19 bagi Tenaga Kesehatan, Keluarga:2020

Demikianlah artikel tentang ” MAKALAH DETEKSI DAN INTERVENSI DINI PERTUMBUHAN ANAK ” Jika kalian merasa belum puas kalian bisa mengunjugi link ini halangrintang.com

Leave a Reply