Semua Pengetahuan Ada Disini

Pengetahuan

CONTOH MAKALAH PENDEKATAN KONSTEKTUAL

Contoh makalah pendekatan konstektual

Halangrintang.com – CONTOH MAKALAH PENDEKATAN KONSTEKTUAL . Kalian pasti ada tugas untuk membuat makalah tentang contoh makalah pendekatan konstektual kan? Admin disini mencoba membagikan hasil makalah yang bisa mimin bagikan untuk kalian, jika ada salah kata didalam makalah mimin, mimin minta maaf sebesar-besarnya.

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Pendekatan Konstektual ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Dosen mata kuliah Strategi Pembelajaran Biologi yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai pendekatan kontekstual dalam pembelajaran. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat memberikan informasi bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang lain yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata- kata yang kurang berkenan. Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari para pembaca yang budiman sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini kedepannya.

19 Oktober 2020

Penyusun

Daftar Isi

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………………………. ii

BAB I…………………………………………………………………………………………………………………………….. 1

PENDAHULUAN……………………………………………………………………………………………………………. 1

  1. Latar Belakang………………………………………………………………………………………………………. 1
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………………………………………………….. 1
  3. Tujuan………………………………………………………………………………………………………………….. 2
  4. Manfaat………………………………………………………………………………………………………………… 2

BAB II……………………………………………………………………………………………………………………………. 3

PEMBAHASAN………………………………………………………………………………………………………………. 3

  1. PENGERTIAN KONTEKSTUAL………………………………………………………………………….. 3
  2. KOMPONEN PENDEKATAN KONTEKSTUAL……………………………………………….. 4
  3. KARAKTERISTIK PENDEKATAN KONTEKSTUAL………………………………………….4
  4. LANGKAH-LANGKAH PENDEKATAN KONTEKSTUAL………………………………. 4
  5. BENTUK-BENTUK PENDEKATAN KONTEKSTUAL………………………………………. 5
  6. STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL……………………………………………8
  7. PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL…………………………………………..11

BAB III………………………………………………………………………………………………………………………… 16

PENUTUP…………………………………………………………………………………………………………………….. 16

  1. Kesimpulan…………………………………………………………………………………………………………. 16
  2. Saran………………………………………………………………………………………………………………….. 16

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………………………. 17

Bab 1

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Isu yang berkembang luas tentang kualitas pendidikan saat ini adalah ketidakmampuan siswa dalam memecahkan persoalan (masalah) dalam kehidupan sehari- hari. Padahal ini sangat penting karena berorientasi jangka panjang, bukan semata selesai pada saat mereka berada dalam lingkungan sekolah. Setiap siswa yang memperoleh pengatahuan di bangku sekolah sudah seharusnya dapat menerapkan apa yang diperolehnya tersebut dalam kehidupan nyata mereka sehari-hari. Pengetahuan harusnya menjadi bekal hidup bagi mereka saat terjun di tengah-tengah masyarakat sebagai bagian dari masyarakat itu.Muncullah kemudian sebuah paradigma baru dalam kegiatan pembelajaran di mana siswa diajak untuk berada dalam situasi alamiah. Menurut paradigma ini proses belajar siswa akan lebih bermakna jika mereka berada dalam situasi alamiah tersebut. Mereka tidak sekedar mengetahuinya saja, tetapi harus mengalami dan mempunyai pengalaman nyata akan proses belajarnya.

B. Rumusan Masalah

Paradigma inilah yang kemudian melahirkan pendekatan kontekstual dalam proses pembelajaran. Dalam bahasa aslinya, pembelajaran kontekstual disingkat dengan CTL (Contextual Teaching and Learning). Pada pendekatan ini, fasilitator pembelajaran dalam hal ini guru harus membantu siswa untuk menghubungkan antara pengetahuan yang sedang dipelajarinya dengan penerapannya di dunia nyata dalam kehidupan sehari- hari. Dengan demikian, pembelajaran yang dilakukan di kelas-kelas menjadi bermakna dan bermanfaat bagi siswa kelak. Jadi menurut pembelajaran yang mengakomodasi pendekatan kontekstual, guru bukan sekedar mentransfer pengetahuan. Bukan, guru bukan satu-satunya sumber informasi dan pengetahuan. Justru pengetahuan itu sebaiknya didapatkan dari beragam sumber yang difasilitasi oleh guru dalam KBMnya. Proses pembelajaran menjadi suatu bagian penting, tidak semata pada hasil belajar saja.

Untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan dari pokok-pokok masalah yang akan dibahas, maka perlu diadakan rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Apakah yang dimaksud dengan pendekatan kontekstual?
  2. Apa saja komponen yang terdapat pada pendekatan kontekstual?
  3. Apa saja karakterikstik dari pendekatan kontekstual?
  4. Bagaimana langkah-langkah pendekatan kontekstual?
  5. Apa saja bentuk-bentuk dari pembelajaran kontekstual?
  6. Bagaimana strategi dalam pembelajaran kontekstual?

C. Tujuan

Tujuan penulisan ini adalah:

  1. Untuk mengetahui pengertian dari pendekatan kontekstual
  2. untuk menambah wawasan ilmu tentang komponen, karakteristik, langkah- langkah, dan bentuk dari pendekatan
  3. Untuk mengetahui strategi yang harus dilakukan dalam pembelajaran

D. Manfaat

  • Adapun yang menjadi kegunaan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
    1. Memberikan sumbangsih dalam bidang pengetahuan dan wawasan khususnya dalam memahami dan mengetahui secara mendalam tentang pendekatan kontekstual.
    2. Sebagai tambahan referensi dalam penelitian yang berhubungan dengan strategi pembelajaran
    3. Untuk menambah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar di

BAB II

Pembahasan

A. Pengertian Konteskstual

Kata kontekstual diambil dari Bahasa Inggris yaitu contextual kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi kontekstual. Kontekstual memiliki arti berhubungan dengan konteks atau dalam konteks. Konteks membawa maksud keadaan, situasi dan kejadian. Pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan pembelajaran yang dikenal dengan sebutan Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dengan pendekatan kontekstual diharapkan hasil belajar dapat lebih bermakna bagi siswa, sehingga siswa dapat mengaplikasikan hasil belajarnya dalam kehidupan mereka dalam jangka panjang. Pendekatan pembelajaran kontekstual lebih mengutamakan aktifitas siswa dalam pembelajaran sehingga siswa dapat menemukan konsep tentang materi pembelajaran dan mengaitkan konsep tersebut dengan situasi dunia nyata mereka. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Elaine B. Johnson bahwa kekuatan, kecepatan, dan kecerdasan otak (IQ) tidak lepas dari faktor lingkungan atau faktor konteks, karena ada interface antara otak dan lingkungan. Pendekatan pembelajaran kontekstual mendorong siswa untuk selalu  aktif dalam menemukan konsep dan mengaitkan antara pengalaman yang dimiliki siswa dengan materi yanng dipelajari. Hal ini sesuai dengan “pembelajaran spiral” sebagai konsekuensi dalil J. Bruner.

Dengan pendekatan pembelajaran kontekstual siswa akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan sebagai bekal untuk memecahkan masalah kehidupannya di lingkungan masyarakat. Siswa adalah generasi yang dipersiapkan untuk menghadapi dan memecahkan masalah di masa mendatang sehingga perlu dilatih dari sekarang. Menurut S. Nasution memecahkan masalah adalah metode belajar yang mengharuskan pelajar untuk menemukan jawabannya (discovery) tanpa bantuan khusus. Masalah yang dipecahkan , ditemukan sendiri tanpa bantuan khusus akan memberi hasil yang lebih unggul dibanding pemecahan masalah yang mendapat bantuan khusus.

Dengan demikian pendekatan pembelajaran kontekstual pembelajaran adalah pembelajaran yang mendorong siswa untuk menemukan konsep dan mengaitkan konsep yang dipelajari dengan pengalaman yang dimiliki sebagai pengetahuan prasyarat untuk membangun konsep baru. Dengan pendekatan pembelajaran kontekstual pembelajaran akan menjadi lebih bermakna dan siswa dapat mengaplikasikan konsep yang dipelajari dengan kehidupan nyata mereka untuk memecahkan masalah kehidupan di lingkungannya.

B. Komponen Pendekatan Kontekstual

 Komponen – komponen yang menyusun Pendekatan kontekstual adalah sebagai berikut:

  1. Membangun hubungan untuk menemukan makna (relating),
  2. Melakukan sesuatu yang bermakna (experiencing),
  3. Belajar secara mandiri,
  4. Kolaborasi (collaborating),
  5. Berpikir kritis dan kreatif (applying),
  6. Mengembangkan potensi individu (transfering),
  7. Standar pencapaian yang tinggi,
  8. Asesmen yang

C. Karakteristik Pendekatan Kontekstual

Ada beberapa karakteristik dalam pendekatan kontekstual dalam pembelajaran, yaitu:

  1. Kerjasama
  2. Saling menunjang
  3. Menyenangkan, tidak membosankan
  4. Belajar dengan bergairah
  5. Pembelajaran terintegrasi
  6. Menggunakan berbagai sumber
  7. Siswa aktif
  8. Sharing dengan teman
  9. Siswa kritis guru kreatif
  10. Dinding dan lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain-lain
  11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapot tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan lain-lain.

Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa pendekatan kontekstual mempunyai ciri khas adanya kerjasama dan sharing antar siswa agar dapat saling menunjang dalam pembelajaran, siswa aktif , senang dan bergairah dalam belajar, pembelajaran terintegrasi dengan mata pelajaran lain, dengan kebebasan berpendapat membuat siswa kritis, dan suasana kelas menjadi indah dan membuat siswa nyaman untuk belajar.

D. Langkah-Langkah Pendekatan Kontekstual

Dalam pendekatan kontekstual ada beberapa langkah yang harus dilalui yang disebut degan fase, ada 6 fase dalam pembelajaran antara lain :

  1. .Fase 1 (menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa), guru menyampaikan tujuan yan ingin dicapai dalam pembelajaran dan memotivasi
  2. Fase 2 (Menyampaikan Informasi), guru menyampaikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
  3. Fase 3 (Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar), guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara
  4. Fase 4 (Membimbing kelompok belajar dan bekerja), guru membimbing kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas
  5. Fase 5 (Evaluasi), guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari/ meminta kelompok untuk presentasi hasil
  6. Fase 6 (Memberikan Penghargaan),guru mengharagai baik upaya maupun hasil belajar individu maupun

E. Bentuk-Bentuk Pendekatan Kontekstual

  1. Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

Menurut Aqib (,2002: 67), CBSA adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menitikberatkan pada keaktifan siswa dalam proses pembelajaran melalui asimilasi dan akomodasi kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan, serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap.

Siswa dipandang sebagai objek pembelajaran dan subjek yang belajar, sedangkan titik berat proses pembelajaran adalah pada keaktifan siswa dan keaktifan guru. Peran dan fungsi guru secara aktif dan kreatif. dan Kadar CBSA terletak pada banyak keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar dilihat dari segi masukan, proses, dan produksi.

CBSA dilaksanakan dengan memperhatikan kaidah-kaidah sebagai berikut:

  1. derajat partisipasi dan responsif siswa yang tinggi;
  2. keterlibatan siswa dalam pelaksanaan dan pembuatan tugas;
  3. kesadaran guru mengenai tujuan yang hendak dicapai;
  4. penggunaan metode pengajaran secara bervariasi;
  5. penyediaan media dan peralatan/fasilitas belajar; dan
  6. perlunya bimbingan dan pengajaran remedial pada waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan.

2. Pendekatan Proses

Penggunaan pendekatan keterampilan proses berdasarkan pertimbangan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dan guru, proses mengalami secara langsung melalui interaksi dengan lingkungan, proses untuk mengembangkan kemampuan dasar, dan belajar bagaimana belajar untuk memperoleh hasil belajar yang baik.

Pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan pembelajaran yang bertujuan mengembangkan kemampuan fisik dan mental sebagai dasar untuk mengembangkan kemampuan yang lebih tinggi pada diri siswa dalam rangka menemukan fakta dan konsep serta menumbuhkan kembangkan sikap dan nilai. Melalui pendekatan keterampilan proses hendak dikembangkan kemampuan- kemampuan mengamati, mengelompokkan, memproyeksikan, menerapkan, menganalisis, melakukan penelitian sederhana, dan mengkomunikasikan hasil.

  1. Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills Education)

Pendidikan kecakapan hidup (life skills) adalah pendidikan yang memberikan kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual, dan kecakapan vokasional untuk bekerja atau usaha mandiri (UURI No. 20 Th. 2003; pasal 26, ayat 3). Pendidikan kecakapan hidup harus terefleksikan dalam kegiatan pembelajaran, pada seluruh mata pelajaran. Kita ingat bahwa pada setiap kegiatan pembelajaran mengembangkan tiga aspek, yaitu: aspek kognitif, aspek efektif, dan aspek konatif. Ketiga aspek tersebut dikembangkan secara integral, sehingga siswa memiliki kemampuan yang integratif dan komprehensif, sebagai keterampilan bagi bekal hidupnya.

Pembelajaran yang berorientasi kecakapan hidup tercermin dalam rumusan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang berorientasi kecakapan hidup memiliki tiga dimensi, yaitu: dimensi kecakapan proses, dimensi kecapakan keilmuan, dan dimensi kecakapan mengaplikasikan.

Dimensi pertama, tujuan pembeljaran yang berorientasi pada penguasaan dan pemilikan kecakapan proses atau keterampilan proses (methodologycal objectives). Kecakapan proses tersebut juga sebagai kecakapan generik (generic competency) atau kecakapan hidup yang bersifat umum (general life skills). Kecakapan generik adalah kecakapan proses penguasaan dan pemilikan konsep- konsep dasar keilmuan yang memungkinkan siswa memiliki kemampuan dasar keilmuan. Dalam kegiatan pembelajaran, kemampuan generik ini dapat dilaksanakan dengan mengaplikasikan pembelajaran keterampilan proses agar siswa memiliki kemampuan metodologis.

Dimensi kedua, tujuan pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan dan pemilikan konsep dasar keilmuan (content objectives). Penguasaan materi esensial yang terdiri atas konsep-konsep kunci (key concept) dan prinsi-prinsip utama (basic principles). Walaupun tujuan pembelajaran berorientasi pada penguasaan materi esensial, tidak berarti kegiatan pembelajaran berorientasi pada materi (subject matters), melainkan berorientasi pada proses perolehan materi esensial tersebut (konstruktivisme). Dalam kegiatan pembelajaran, penguasaan dan pemilikan konsep dasar keilmuan dapat dilaksanakan dengan mengaplikasikan pembelajaran inkuiri. Melalui pembelajaran inkuiri, siswa difasilitasi untuk menguasai kecakapan proses dan penguasaan atau pemilikan

konsep dasar keilmuan. Dengan demikian, penguasaan dan pemilikan kecakapan proses (dimensi pertama) dengan penguasaan dan kepemilikan konsep dasar keilmuan (dimensi kedua) dapat diperoleh siswa secara simultan dalam kegiatan pembelajaran.

Dimensi ketiga, tujuan pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan kecakapan menerapkan konsep dasar keilmuan dalam kehidupan sehari-hari (life skills objectives). Kecakapan tersebut merupakan kemampuan aplikatif. Dalam kegiatan pembelajaran, kecakapan menerapkan konsep dasar keilmuan tersebut dapat dilaksanakan dengan mengaplikasikan pembelajaran kontekstual.

Kecakapan hidup merupakan kecakapan yang harus mendapat perhatian dalam setiap proses pembelajaran. Dengan kecakapan hidup tersebut, siswa dapat berinteraksi, beradaptasi, dan berpartisipasi dalam lingkungan kehidupan yang sebenarnya. Dengan demikian, siswa memiliki kemampuan untuk melangsungkan kehidupannya (survive).

  1. Pembelajaran Inkuiri (Inquiry-Based Learning)

Tujuan utama dari pendekatan inkuiri adalah membantu siswa mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan yang diperlukan. Disiplin intelektual dan keterampilan tersebut dilatih dengan memberikan pertanyaan- pertanyaan dan memberikan jawaban atas dasar keingintahuan mereka. Inkuiri juga bertujuan agar siswa memperoleh pengetahuan baru dari hasil gagasan yang ditemukan siswa.

Pembelajaran berbasis inkuiri ini dimulai dari suatu permasalahan dalam disiplin ilmu, sehingga memotivasi siswa untuk mencari pemecahannya. Langkah kegiatan yang dilakukan dalam inkuiri terdiri atas: perumusan masalah; pengembangan hipotesis; pengumpulan data; pengolahan data; uji hipotesis; dan penarikan kesimpulan.

  1. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning)

Kegiatan belajar melalui pemecahan masalah bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi, mengembangkan kemampuan berfikir alternatif, dan kemampuan mengambil keputusan berdasarkan alternatif yang tersedia. Kemampuan-kemampuan ini adalah kemampuan yang melibatkan keterampilan proses tinggi.

Pembelajaran berbaissi masalah adalah pembelajaran melalui pemecahan masalah. Langkah jegiatan pembelajaran dilakukan melalui atas lima tahap kegiatan, yaitu: identifikasi masalah; pengembangan alternatif; pengumpulan data untuk menguji alternatif; pengujian alternatif; dan pengambilan keputusan.

  1. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative-Learning)

Pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam

struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih. Strategi ini menempatkan siswa sebagai bagian dari suatu sistem kerjasama dalam mencapai hasil belajar yang optimal.

Pembelajaran ini mendorong siswa untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran melalui pemecahkan masalah. Siswa secara bekerja sama dalam kelompoknya untuk menemukan dan merumuskan alternatif pemecahan masalah, pada materi yang dihadapi. Untuk melaksanakan pembelajaran ini, guru perlu mempersiapkan dan merencanakannya dengan matang, agar siswa dapat berinteraksi satu sama lain. Dalam interaksi ini siswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan mereka menyenangi dan mencintai proses  belajar.   Dalam      suasana      demikian         siswa      lebih              mudah              memahami            serta mengembangkan kemampuan dan keterampilan berfikirnya.

Menurut Slavin (1995) terdapat enam karakteristik model Cooperative Learning. Keenam karakteristik tersebut, yaitu: 1) Groups goals, 2) Individual accountability, 3) Equal opportunities for success, 4) Team competition, 5) Task specialization, 6) Adaption to individual needs

F. Strategi Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual memiliki orientasi pada proses, yakni proses kegiatan pembelajaran dan kemampuan proses yang dicapai siswa sebagai hasil belajar. Pembelajaran dikatakan kontekstual apabila pembelajaran tersebut menerapkan ketujuh komponen CTL, yaitu: konstruktivisme, selalu ada unsur bertanya, inkuiri, terbentuk masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian yang otentik. Untuk itu, sebelum pembelajaran kontekstual dilaksanakan, guru terlebih dahulu harus menyusun rencana pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual.

  1. Mengembangkan Rencana Pembelajaran berbasis

Kita ketahui bahwa pembelajaran meliputi tiga langkah kegiatan, yaitu: kegiatan merumuskan RPP, pelaksanaan kegiatan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran. RPP dalam pembelajaran kontekstual berisikan skenario langkah- langkah kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan guru bersama siswa sehubungan dengan materi yang akan dipelajari.

Terdapat dua hal yang merupakan karakteristik RPP berbasis kontekstual, yaitu skenario dan tujuan pembelajaran. Skenario pembelajaran tersusun secara jelas dan rinci dalam langkah-langkah atau tahapan kegiatan pembelajaran. Sedangkan, Tujuan pembelajaran dirumuskan secara mendalam yang mencerminkan tercapainya hasil belajar siswa, yakni pada kompetensi atau kemampuan proses. Untuk mencapai tujuan

pembelajaran tersebut, maka tertuang dalam skenario sebagai proses pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran merupakan strategi pembelajaran.

Misalnya:

Tujuan pembelajaran (Indikator Pencapaian hasil Belajar/IPHB): Siswa dapat membuat peta persebaran penduduk di kelurahan/desa masing-masing sesuai dengan persyaratan peta. Kegiatan utama pembelajarannya: Latihan membuat peta persebaran penduduk kelurahan/desa masing-masing berdasarkan persyaratan peta. Skenario pembelajaran: tersusun sesuai dengan langkah-langkah membuat peta.

Secara umum, tidak ada perbedaan yang mendasar antara format RPP pada pembelajaran konvensional dengan format RPP pada pembelajaran kontekstual. Namun demikian, terdapat perbedaan pada komponen skenario dan tujuan pembelajaran. RPP pada pembelajaran konvensional, tujuan pembelajaran dirumuskan secara lebih rinci dan operasional, sedangkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran diuraikan secara umum.

Misalnya:

Tujuan pembelajaran: Siswa dapat menjelaskan pengertian peta, dll.

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran: pendahuluan, kegiatan init, penutup.

RPP pada pembelajaran kontekstual, tujuan dan skenario pembelajaran telah diuraikan di atas.

Suatu RPP yang ideal adalah RPP yang memenuhi kriteris baku. Kriteria baku tersebut, di antaranya adalah memenuhi komponen-komponen yang harus tercantum dalam RPP. Terdapat 14 komponen RPP yaitu sebagai berikut:

  1. Identitas bidng studi/mata pelajaran;
  2. Pokok bahasan/sub pokok bahasan yang menjadi topik utama pembahasan dalam kegiatan pembelajaran;
  3. waktu yang tercantum dalam kurikulum/silabus (bersifat fleksibel);
  4. Alokasi waktu yang diperuntukan bagi pembelajaran;
  5. Siswa yang menjadi subjek pembelajaran;
  6. Standar kompetensi;
  7. Kompetensi dasar;
  8. Indikator pencapaian tujuan pembelajaran;
  9. Tujuan pembelajaran;
  10. Garis besar materi pembelajaran
  11. Media dan sumber belajar;
  12. Langkah-langkah kegiatan (skenario) pembelajaran;
  13. Penilaian (authentic asesment); dan
  14. identitas guru

Keempat belas komponen tersebut harus terdapat dalam RPP, termasuk dalam RPP pada pembelajaran kontekstual. Sebelum merumuskan RPP, guru terlebih dahulu harus menganalisis silabus untuk menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang

akan dicapai melalui pembelajaran kontekstual. Artinya, pembelajaran kontekstual akan efektif apabila memiliki konteksitas dengan SK dan KD

2. Posisi RPP dalam kegiatan pembelajaran

Setelah RPP berbasis kontekstual terumuskan, maka langkah selanjutnya adalah mengimplementasikan RPP tersebut dalam kegiatan pembelajaran. Kita ketahui bahwa kegiatan pembelajaran dilaksanakan melalui tiga tahapan kegiatan, yakni: pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.

Setiap kegiatan pembelajaran berlangsung, guru dan siswa berpedoman pada RPP. Keberadaan RPP tersebut memiliki peran strategis bagi kelancaran proses dan pencapaian tujuan pembelajaran. Untuk itu, efektivitas dan efisiensi pembelajaran bergantung pada RPP dan ketaatan guru dalam mengimplementasikannya.

RPP sebagai pedoman guru merupakan hal yang semestinya. Untuk itu, guru yang melaksanakan pembelajaran harus membawa RPP yang telah dibuatnya. Fungsi RPP tidak hanya untuk memenuhi kewajiban administrasi bagi guru, melainkan lebih utama adalah sebagai pedoman melaksanakan kegiatan pembelajaran. Apabila guru memandang RPP hanya berfungsi administrasi, maka keberadaan RPP tersebut dari waktu ke waktu tidak mengalami perubahan (hanya tahun yang diganti).

Guru profesional, ketika masuk kelas selalu membawa RPP dan tidak ditabukan bila guru acap kali melihat RPP tersebut. RPP yang dibuat guru sudah semestinya mengalami perubahan berdasarkan perkembangan, baik perkembangan IPTEK maupun perkembangan di masyarakat. Selain itu, RPP bukan untuk dihapal oleh guru, melainkan untuk diimplementasikan. Merupakan kegiatan yang tidak berguna apabila guru menghapal RPP. Tetapi sangat berguna apabila kegiatan tersebut digunakan untuk memperluas wawasan sekaitan dengan materi pembelajaran, sehingga guru memiliki kapabilitas secara substansial. Dengan demikian, guru dapat berperan sebagai demonstrator secara optimal dala kegiatan pembelajaran.

Langkah pertama proses pembelajaran adalah kegiatan pendahuluan atau disebut juga apersepsi. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kesiapan untuk aktivitas belajar. Salah satu kegiatan apersepsi yang semestinya dilakukan oleh guru adalah menyampaikan secara garis besar proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, diantaranya adalah: menyampaikan tujuan pembelajaran, materi yang akan dibahas, dan strategi pembelajaran.

Dengan demikian, siswa mengetahui kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakannya. Mereka memiliki orientasi dan berpartisipasi sesuai dengan skenario pembelajaran. Kita dapat bayangkan jika guru tidak menyampaikan RPP, maka mereka akan merasa bingung dan tidak siapuntuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Artinya, siswa melaksanakan kegiatan pembelajaran berdasarkan pada RPP.

3. Mengukur Efektifitas RPP

Efektifitas RPP dapat diketahui dari dua aspek, yaitu : aspek proses pembelajaran  dan pencapaian tujuan pembelajaran. Pertama, RPP dikatakan efektif manakala proses kegiatan pembelajaran berjalan sesuai dengan skenario yang telah disusun. Demikian  juga jika mengalami hambatan kendala yang mengakibatkan terganggunya langkah- langkah kegiatan pembelajaran tetapi guru dapat segera mengatasinya dan mengembalikannya pada kondisi yang sesuai skenario. Tetapi apabila hambatan tersebut tidak segera teratasi sehingga kegiatan pembelajaran terganggu, maka RPP tersebut harus direvisi. Demikian juga jika skenario pembelajaran tidak berjalan, maka RPP tersebut harus direvisi.

Untuk itu, maka diperlukan suatu penilaian terhadap proses pembelajaran. Penilaian tersebut dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu: observasi dan meminta pendapat kepada siswa. Cara pertama, menggunakan lembar observasi yang berisi skenario pembelajaran lengkap dengan alokasi waktu untuk setiap langkah kegiatan. Siapakah yang melakukan observasi?

Observasi dilakukan oleh guru dengan membubuhi tanda centang (V), pada setiap poin yang terdapat pada lembar observasi tersebut. Untuk pertama kali akan terasa merepotkan, tetapi penilaian terhadap proses pembelajaran harus dilakukan. Kita berpegang pada peribahasa: bisa karena biasa. Dengan demikian, agar guru bisa mengobservasi proses pembelajaran maka harus dibiasakan.

Cara kedua, meminta pendapat siswa pada akhir proses pembelajaran tentang kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Cara ini dapat dilakukan kepada beberapa siswa atau secara keseluruhan. Keunggulan menggunakan cara ini adalah siswa dapat mengungkapkan rasa senang atau kurang senang dan saran untuk perbaikan berikutnya.

Kedua, RPP dapat dikatakan efektif manakala tujuan pembelajaran tercapai. Artinya, siswa mendapatkan kemampuan yang diharapkan dan mendapatkan hasil belajar secara optimal. Hal ini dapat diketahui dari hasil test atau tugas yang dibuat oleh siswa. Dalam pembelajaran kontekstual, tugas tersebut harus dinilai sebagai suatu proses bukan hanya produk. Artinya, setiap langkah menyelesaikan tugas harus dinilai.

G. Penerapan Pendekatan Kontekstual

Kemampuan berpikir kritis seseorang dalam suatu bidang studi tidak dapat terlepas dari pemahamannya terhadap materi bidang studi tersebut. Menurut Meyers (1986) seseorang tak mungkin dapat berpikir kritis dalam suatu bidang studi tertentu tanpa pengetahuan mengenai isi dan teori bidang studi tersebut. Dengan demikian agar siswa dapat berpikir kritis dalam matematika, maka dia harus memahami matematika dengan baik.

. Namun sebagaimana kita ketahui bahwa matematika bersifat aksiomatik, abstrak, formal, dan deduktif. Karenanya wajar jika matematika termasuk mata pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa pada umumnya yang tahap berpikirnya belum formal dengan bakat serta kemampuannya yang bervariasi.

Di samping itu kenyataan menunjukkan bahwa bekal kemampuan materi matematika dari guru SD masih kurang memadai sehingga tidaklah mengherankan bila pembelajaran matematika yang dikelolanya menjadi kurang maksimal (Sukayati, 2004). Oleh karena itu diperlukan model pembelajaran yang mengaktifkan siswa dengan pendekatan nyata. Masih rendahnya kualitas hasil pembelajaran siswa dalam matematika merupakan indikasi bahwa tujuan yang ditentukan dalam kurikulum matematika belum tercapai secara optimal. Agar tujuan tersebut dapat tercapai sesuai dengan yang diinginkan, salah satu caranya adalah dengan melaksanakan proses pembelajaran yang berkualitas.

Kualitas proses pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah ketepatan pendekatan yang digunakan. Pendekatan yang digunakan oleh para guru pada umumnya di lapangan, merupakan pendekatan yang berpusat pada guru. Guru masih menyampaikan materi pelajaran matematika dengan pendekatan tradisional yang menekankan pada latihan pengerjaan soal-soal atau drill and practice, prosedural, serta penggunaan rumus. Pada pembelajaran ini guru berfungsi sebagai pusat atau sumber materi guru yang aktif dalam pembelajaran, sedangkan siswa hanya menerima materi. Hal ini merupakan salah satu penyebab rendahnya kualitas pemahaman siswa terhadap matematika (Zulkardi, 2001; IMSTEP-JICA, 1999). Siswa menyelesaikan banyak soal tanpa pemahaman yang mendalam. Akibatnya kemampuan penalaran (berpikir kritis) dan kompetensi strategis siswa tidak berkembang.

Informasi-informasi tersebut memperkuat pentingnya ketepatan pendekatan

pembelajaran yang digunakan agar para peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya. Selain itu fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran tradisional ternyata kurang mendukung untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dengan baik.

Di lain pihak, Contextual Teaching and Learning (CTL) membantu guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar.

Pembelajaran berbasis CTL melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran produktif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan

(Inquiry), masyarakat belajar (Learning community), pemodelan (Modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) (Depdiknas, 2002: 26). Selain itu, dalam pembelajaran kontekstual siswa diharapkan untuk memiliki kemampuan berpikir kritis dan terlibat penuh dalam proses pembelajaran yang efektif. Sedangkan guru mengupayakan dan bertanggungjawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa ada kesenjangan antara tujuan pembelajaran              matematika       yang  ingin    dicapai,     di      antaranya     yaitu memiliki kemampuanberpikir kritis, dan kenyataan yang ada di lapangan. Juga dapat kita cermati bahwa agar kemampuan berpikir kritis siswa dapat dikembangkan dengan baik, maka proses   pembelajaran         yang           dilaksanakan                        harus   melibatkan       siswa  secara   aktif. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning, CTL) adalah           suatu           pendekatan               pembelajaran                 yang                  dimulai dengan            mengambil, mensimulasikan, menceritakan, berdialog, bertanya jawab atau berdiskusi pada kejadian dunia nyata kehidupan sehari-hari yang dialami siswa, kemudian diangkat kedalam konsep yang akan dipelajari dan dibahas. Melalui pendekatan ini,  memungkinkan terjadinya proses belajar yang di dalamnya siswa mengeksplorasikan pemahaman serta kemampuan akademiknya dalam berbagai variasi konteks, di dalam ataupun di luar kelas, untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya baik secara mandiri ataupun berkelompok. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan Berns dan Ericson (2001), yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah suatu konsep pembelajaran yang dapat membantu guru menghubungkan materi pelajaran dengan situasi nyata, dan memotivasi siswa untuk membuat koneksi antara pengetahuan dan penerapannya dikehidupan sehari-hari dalam peran mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan pekerja, sehingga mendorong motivasi mereka untuk bekerja keras dalam menerapkan hasil belajarnya

Selanjutnya Northwest Regional Education Laboratories dengan proyek yang sama, melaporkan bahwa pengajaran kontekstual dapat menciptakan kebermaknaan pengalaman belajar dan meningkatkan prestasi akademik siswa. Demikian pula Owens (2001) menyatakan bahwa pengajaran konteksual secara praktis menjanjikan peningkatan minat, ketertarikan belajar siswa dari berbagai latar belakang serta meningkatkan partisipasi siswa dengan mendorong secara aktif dalam memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengkoneksikan dan mengaplikasikan pengetahuan yang telah mereka peroleh.

Pendapat lain mengenai komponen-komponen utama dari pengajaran kontekstual yaitu menurut Johnson (2002), yang menyatakan bahwa pengajaran kontekstual berarti membuat koneksi untuk menemukan makna, melakukan pekerjaan yang signifikan,

mendorong siswa untuk aktif, pengaturan belajar sendiri, bekerja sama dalam kelompok, menekankan berpikir kreatif dan kritis, pengelolaan secara individual, menggapai standar tinggi, dan menggunakan asesmen otentik.

Menurut Zahorik (Nurhadi, 2002:7) ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran kontekstual, yaitu:

  1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge).
  2. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan
  3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun (a) Konsep sementara (hipotesis), (b) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validisasi) dan atas dasar tanggapan itu (c) konsep tersebut direvisi dan
  4. Mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge).
  5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan

Agar lebih jelas lagi mengenai pembelajaran kontekstual, marilah kita lihat beberapa perbedaan antara pendekatan kontekstual dan pendekatan tradisional

versi Depdiknas (2002: 7-9), yaitu sebagai berikut:

NoPendekatan Kontektual
Pendekatan tradisional
1Siswa secara aktif terlibat dalam proses Pembelajaran
Siswa adalah penerima informasi secara pasif.
2Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan
nyata dan atau masalah yang disimulasikan.
Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis.
3Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman.
Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan.
4Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa.Rumus itu ada di luar diri siswa, yang harus diterangkan, diterima, dihafalkan, dan dilatihkan
5Pemahaman rumus itu relatif berbeda antara siswa yang satu dengan lainnya, sesuai dengan skemata siswa (on going process of development).Rumus adalah kebenaran absolut (sama untuk semua orang). Hanya ada dua kemungkinan, yaitu pemahaman rumus yang salah atau pemahaman rumus yang benar.
6Siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggungjawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing keSiswa secara pasif menerima rumus atau             kaidah            (membaca, mendengarkan, mencatat, menghafal), tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran.
 dalam pembelajaran 
7Penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakanPembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa.

   Contoh langsung dalam pembelajaran (Siklus air)

Siswa berada di lingkungan yang sering dilanda banjir, guru menjelaskan siklus air, termasuk bencana yang berkaitan dengan air, yakni banjir, siswa diminta melakukan pengamatan untuk menjawab pertanyaan : kenapa di lingkungan mereka sering banjir, secara berkelompok siswa mulai meneliti, dokumentasi berupa foto, video, wawancara dan hasil pengamatan, siswa mempresentasikan hasil   pekerjaannya,        sama-sama mengambil tindakan berupa membuat poster, banner dan pesan sosial tentang banjir.

BAB III

Penutup

A. Kesimpulan

Pendekatan Kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dengan pendekatan kontekstual diharapkan hasil belajar dapat lebih bermakna bagi siswa, sehingga siswa dapat mengaplikasikan hasil belajarnya dalam kehidupan mereka dalam jangka panjang. Pendekatan pembelajaran kontekstual lebih mengutamakan aktifitas siswa dalam pembelajaran sehingga siswa dapat menemukan konsep tentang materi pembelajaran dan mengaitkan konsep tersebut dengan situasi dunia nyata mereka. Ada beberapa karakteristik dalam pendekatan kontekstual dalam pembelajaran, yaitu: Kerjasama, Saling menunjang, Menyenangkan, tidak membosankan, Belajar dengan bergairah, Pembelajaran terintegrasi, Menggunakan berbagai sumber, Siswa aktif, Sharing dengan teman, Siswa kritis guru kreatif, Dinding dan lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain-lain, Laporan kepada orang tua bukan hanya rapot tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan lain-lain.

Bnetuk-bentuk pendekatan kontekstual, yaitu: Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Pendekatan Proses, Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills Education, Pembelajaran Inkuiri (Inquiry-Based Learning), Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning), Pembelajaran Kooperatif (Cooperative-Learning)

Penerapan dalam pembelajaran yaitu dengan cara membuat siswa belajar berkelompok atau dengan cara berfikris kritis/ melakukan penganaogian kelingkungan sekitar pada pembelajaran.

B. Saran

Kami tentunya masih menyadari jika makalah di atas masih terdapat banyak kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Kami sebagai penulis makalah ini akan memperbaiki makalah dengan berpedoman pada banyak sumber serta kritik yang membangun dari para pembaca.

Daftar Pustaka

Leaming, Adi Fun. 2029. Contoh Penerapan Pendekatan Kontekstual Dalam Pembelajaran. https://www.esaiedukasi.com/2020/09/contoh-penerapan- pendekatan-kontekstual.html. diakses 04 Oktober 2020 (19:40)

Ningrum, Epon. 2009. “Pendekatan Kontekstual”. Makalah. hlm. 9-18. 7

Oktober 2020

Sulianto, Joko. 2015.” Pendekatan Kontekstual Dalam Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Berpikir Kritis Pada Siswa Sekolah Dasar”. Jurnal kependidikan., 4(2): 14-25

Demikianlah artikel tentang ” CONTOH MAKALAH PENDEKATAN KONSTEKTUAL ” Jika kalian merasa belum puas kalian bisa mengunjugi link ini halangrintang.com

Leave a Reply