Halang Rintang

Semua Pengetahuan Ada Disini

Pengetahuan

Contoh Makalah Kisah-Kisah Dalam Al-qur’an

Contoh Makalah Kisah-Kisah Dalam Al-qur'an

Halangrintang.com – Contoh Makalah Kisah-Kisah Dalam Al-qur’an . Kalian pasti ada tugas untuk membuat Makalah Kisah-Kisah Dalam Al-qur’an, kan ? Admin disini mencoba membagikan hasil makalah yang bisa mimin bagikan untuk kalian, jika ada salah kata didalam makalah mimin, mimin minta maaf sebesar-besarnya.

BAB I

PENDAHULUAN

 A. Latar Belakang

Kisah merupakan suatu metode pembelajaran yang ternyata memiliki daya tarik tersendiri yang dapat menyentuh perasaan dan kejiwaan serta daya pikir seseorang. Kisah memiliki fungsi edukatif yang sangat berharga dalam suatu proses penanaman nilai-nilai ajaran Islam. Islam menyadari sifat alamiah manusia yang menyenangi seni dan keindahan. Sifat alamiah tersebut mampu memberikan pengalaman emosional yang mendalam dan dapat menghilangkan kebosanan serta kejenuhan dan menimbulkan kesan yang sangat mendalam. Oleh karena itu, Islam menjadikan kisah sebagai salah satu metode dalam sebuah pembelajaran.

Kisah–kisah dalam Al-Qur’an memiliki sisi urgensi yang sangat besar.  Ia adalah unsur terpenting dari proses pendidikan dan informasi. Dengan kisah-kisah itu, dakwah mampu menembus relung hati yang dalam dari pendengarnya, objek dakwah. Dakwah Islam juga bisa ditampilkan melalui media kisah, sehingga tujuan-tujuannya  sebagai tugas agama bisa tercapai. Kisah merupakan sarana yang sangat ampuh dalam proses pendidikan. Oleh karenanya, kisah adalah variabel penting yang ditampilkan Al-Qur’an, dan untuk itu, kisah-kisah di dalamnya sangat mendominasi mayoritas surah yang ada dalam Al-Qur’an. Karena itu, merupakan sebuah tuntutan bagi kita,  Kaum Muslimin yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pembimbing utama dalam hidup, untuk memahami kisah-kisah yang ada di dalamnya dan memahami hikmah yang ada dibaliknya. Hal ini agar kita bisa mengambil pelajaran dan tuntunan darinya.

B. Rumusan masalah

  • Apa  pengertian dari Kisah ?
  • Apa  saja  macam Kisah Al-Qur’an ?
  • Apa  Tujuan dari Kisah(Qashash) Al-Qur’an ?
  • Apa  saja  pengaruh Kisah (Qashash) Al-Qur’an dalam pendidikan dan pengajaran ?

C. Tujuan

Seiring  dengan  rumusan  masalah  di atas, maka  tujuan  yang  diharapkan dari  pembuatan   makalah  ini   adalah  sebagai   berikut:

  1. Untuk   mengetahui pengertian dari Kisah.
  2. Untuk mengetahui  macam-macam Kisah Al-Qur’an.
  3. Untuk mengetahui  tujuan dari Kisah(Qashash) Al-Qur’an.
  4. Untuk  mengetahui  pengaruh Kisah (Qashash) Al-Qur’an dalam pendidikan dan pengajaran.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian   dari   Kisah.

Kisah merupakan suatu metode pembelajaran yang ternyata memiliki daya tarik tersendiri yang dapat menyentuh perasaan dan kejiwaan serta daya pikir seseorang. Kisah memiliki fungsi edukatif yang sangat berharga dalam suatu proses penanaman nilai-nilai ajaran Islam. Islam menyadari sifat alamiah manusia yang menyenangi seni dan keindahan. Sifat alamiah tersebut mampu memberikan pengalaman emosional yang mendalam dan dapat menghilangkan kebosanan serta kejenuhan dan menimbulkan kesan yang sangat mendalam. Oleh karena itu, Islam menjadikan kisah sebagai salah satu metode dalam sebuah pembelajaran.

Suatu peristiwa yang berkaitan dengan sebab dan akibat dapat menarik perhatian para pendengar. Apabila dalam peristiwa tersebut terselip berbagai pesan dan pelajaran yang berkaitan dengan berita orang terdahulu, rasa ingin tahu merupakan faktor paling kuat yang dapat menanamkan kesan sebuah peristiwa ke dalam hati seseorang. Perlu diketahui, nasihat dengan tutur kata yang disampaikan tanpa variasi tidak akan mampu menarik perhatian akal. Bahkan semua isinya tidak akan mudah untuk dipahami. Akan tetapi, jika nasihat itu dituangkan dalam bentuk kisah yang menggambarkan peristiwa dalam realita kehidupan, maka akan terwujud dengan jelas tujuannya. Orang akan merasa senang mendengar dan memperhatikan dengan penuh kerinduan serta rasa ingin tahu. Pada gilirannya ia akan terpengaruh dengan nasihat dan pelajaran yang terkandung di dalamnya.

B. Macam-macam Kisah dalam Al-Qur’an.

1. Kisah-kisah para Nabi dan Rasul terdahulu

Tentunya kita semua tahu bahwa tidaksemua Nabi dan Rasul itu disebutkan kisahnya di dalam Al Qur’an, Nabi dan Rasul yang disebutkan dalam Al Qur’an hanyalah 25 orang, dimulai dari Nabi Adam As sampai dengan Nabi Muhammad SAW.

Kemudian dari 25 orang ini, secara garis besar dilihat dari sisi panjang atau singkatnya kisahnya, dapat dijadikan menjadi tiga kelompok :

a. Kisah yang disebutkan dengan panjang lebar.

kisah yang masuk dalam kategori ini adalah kisah dari Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Yusuf, Musa dan Harun, Daud dan Sulaiman, serta Isa ‘alaihimu al-salam. Namun diantara yang lainnya, kisah Nabi Yusuf adalah kisah yang paling panjang, karena diceritakan dengan lengkap, mulai dari masa kecilnya sampai menjadi penguasa di mesir dan dapat berkumpul dengan Bapak dan Saudara-saudaranya.

b. Kisah yang disebutkan dengan sedang.

kisah yang masuk dalam kategori ini adalah kisah dari Nabi Hud, Luth, Shaleh, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Zakariya dan Yahya ‘alaihimu al-salam.

C. Kisah yang disebutkan dengan sekilas

kisah yang masuk dalam kategori ini adalah kisah dari Nabi Idris, Ilyasa’ dan Ilyas.

Sedangkan kisah dari Nabi Muhammad SAW, bisa dikategorikan kedalam bagian yang pertama (diceritakan secarapanjang lebar), Karena diceritakan kisah Nabi Muhammad SAW beberapa peristiwa yang terjadi pada zaman beliau, seperti peristiwa yang yang dialami beliau waktu kecil, permulaan dakwah, hijrah, dan beberapa perang yang dialami serta beberapa gambaran kehidupan keluarga beliau.

2. Kisah ummat, tokoh, atau pribadi (bukan Nabi) dan peristiwa-peristiwa masa lalu

Tokoh yang pertama kali kisahnya diceritakan dalam Al Qur’an adalah dua orang putra Nabi Adam sendiri yaitu Qabil dan Habil, Al Qur’an menceritakan kisah ketika Qabil membunuh saudaranya sendiri Karena akibat dari sifat dengkinya. Inilah pembunuhan pertama yang terjadi dalam sejarah umat islam. Dan masih banyak lagi kisah-kisah seorang tokoh yang diceritakan dalam

  1. Kisah Qarun yang hidup pada zaman Nabi Musa As
  2.  Kisah peperangan antara Jalut dan Thalut
  3.  Kisah tentang Ashabul Kahfi
  4.  Kisah Raja Dzul Qarnain
  5.  Kisah kaum Ashabul Ukhdud
  6.  Kisah Maryam yang diasuh oleh Nabi Zakariya

Dan beberapa kisah lain yang tidak bisa disebutkan oleh penulis secara lengkap.

3. Kisah-kisah yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW

     Beberapa kisah yang terjadi pada masa Nabi Muhammad juga disebutkan  dalam Al Qur’an, salah satunya yaitu ketika sebelum Nabi lahir Tentara Bergajah melakukan penyerbuan ke Makkah yang bertujuan untuk menghancurkan Ka’bah, yang dipimpin oleh Raja Abrahah. Diceritakan pula kisah Nabi Muhammad waktu kecil dengan statusnya sebagai anak yatim yang miskin dan belum mendapat bimbingan wahyu, dengan bahasa yang singkat dan puitis.

     Dan juga peristiwa setelah beliau diangat menjadi Rasul, yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj, hijrah, perang badar, perang uhud, perang azhab atau perang khandaq, dan perang humain, juga kisah-kisah seputar fathu makkah dan peristiwa lainnya yang juga tidak bisa disebutkan oleh penulis secara lengkap.

C. Tujuan  dan Manfaat  dari   kisah(Qashash) Al-Qur’an.

    Dari beberapa literatur, dapat disimpulkan bahwa kisah-kisah Alquran bertujuan untuk:

  1. Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah dan pokok syari’at yang dibawa oleh para nabi.
  2.  Menguatkan hati nabi Muhammad dan memperkuat keyakinan kaum mukminin.
  3. Mengabadikan jejak para nabi terdahulu.
  4. Membuktikan kebenaran informasi yang berasal dari nabi Muhammad.
  5.  Menarik minat pembaca.
  6. Menjelaskan tentang kerasulan kepada ummat.
  7. meringankan beban jiwa nabi Muhammad dan para pengikutnya.
  8. Menumbuhkan kepercayaan diri dan ketentraman.
  9. Membuktikan kerasulan Muhammad saw dan mu’jizatnya.

Sehingga kisah-kisah Al-Qur`an mengandung banyak manfaat dan faedah bagi manusia, di antaranya:

1. Menjelaskan landasan dasar (asas) dakwah 

mengajak manusia kepada Allah, menerangkan tentang pokok-pokok (ushul) syariat yang dibawa masing-masing Nabi yang diutus Allah. Firman Allah :

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” (Al-Anbiya`: 25)

2. Meneguhkan hati Rasulullah

 dan hati umat beliau di atas ajaran Allah , mengokohkan ketsiqahan (kepercayaan) kaum mukminin akan kemenangan al-haq dan tentaranya serta terhinanya kebatilan dan para pembelanya. Allah berfirman:

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud: 120)

3. Membenarkan para nabi sebelumnya, menghidupkan nama serta melestarikan jejak mereka.

4. Menonjolkan kebenaran/kejujuran Nabi Muhammad dan dalam dakwahnya melalui berita yang beliau sampaikan tentang keadaan masa lalu seiring perjalanan masa dan generasi.

5. Sebagai Upaya Mengoreksi Pendapat Ahli Kitab. 

Pernyataan dan keyakinan ahli kitab pada masa Rasulullah saw. banyak yang sudah bertolak belakang dengan realias sebelumnya yang terjadi ppada masa nabi Musa as dan nabi Isa as. karena itu, kisah-kisah yang menceritakan  Bani Israil ataupun ahli kitab dalam al-Qur’an dapat menjadi koreksi bagi kesalahan mereka, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an:

 “Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: ‘(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar’.” (Ali ‘Imran: 93)

6. Menjadi Sarana Menanamkan Pendidikan Akhlak Mulia

Meskipun berupa suatu kisah, ayat al-Qur’an memiliki misi untuk menanamkan akhlak yang mualia bagi para pembacanya. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Yusuf ayat 111:

 “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111)

7. Menjelaskan hikmah Allah 

 berkaitan dengan hal-hal yang terkandung dalam kisah itu, sebagaimana firman Allah :

“Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran), itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tiada berguna (bagi mereka).” (Al-Qamar: 4-5)

8. Menerangkan keadilan Allah  

dengan adanya hukuman yang ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan, sebagaimana firman Allah :

“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu adzab Rabbmu datang.” (Hud: 101)

9. Menerangkan karunia Allah  

dengan menyebutkan pahala yang dilimpahkan kepada orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami telah mengembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka). Kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Al-Qamar: 34-35)

10. Sebagai hiburan bagi Nabi dan atas gangguan yang dilancarkan orang-orang yang mendustakan beliau, sebagaimana firman Allah :

“Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulnya); kepada mereka telah datang rasul-rasulnya dengan membawa mukjizat yang nyata, zubur, dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. Kemudian Aku adzab orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat kemurkaan-Ku.” (Fathir: 25-26)

11. Membangkitkan rasa antusias kaum mukminin terhadap keimanan 

dengan mendorong mereka agar teguh di atasnya serta meningkatkannya ketika mengetahui keberhasilan orang-orang beriman terdahulu serta kemenangan mereka yang diperintah berjihad. Sebagaimana firman Allah :

“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Al-Anbiya`: 88)

12. Men-tahdzir (peringatan) orang-orang kafir agar tidak terus-menerus tenggelam dalam kekafirannya, 

sebagaimana firman Allah :

“Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memerhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.” (Muhammad: 10)

13. Mengakui keberadaan risalah Nabi Muhammad ,

karena berita-berita tentang umat-umat sebelumnya tidak ada yang tahu kecuali Allah , sebagaimana firman Allah:

“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini.” (Hud: 49) Dan firman-Nya: “Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah.” (Ibrahim: 9)

14. Penjelasan tentang sunnatullah pada makhluk-Nya,

 baik secara individu, maupun kelompok. Sunnah itu berlaku pada orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian, agar dijadikan pelajaran oleh orang-orang yang beriman. Oleh sebab itulah, kisah-kisah Qur`ani ini bukan semata-mata memaparkan sejarah umat manusia atau sosok tertentu. Tapi yang diuraikan adalah hal-hal yang memang dapat dijadikan pelajaran, nasihat, dan peringatan. Allah l berfirman:

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud: 120) Wallahu a’lam.

D. Pengaruh Kisah Al-Qur’an dalam Pendidikan dan Pengajaran.

Tidak diragukan lagi bahwa kisah yang baik dan cermat akan digemari dan menembus jiwa manusia dengan mudah. Segenap perasaan mengikuti alur kisah tersebut tanpa merasa jemu serta unsur-unsurnya dapat dijelajahi akal. Pelajaran yang disampaikan dengan metode ceramah akan menimbulkan kebosanan, bahkan tidak dapat di ikuti sepenuhnya oleh generasi muda kecuali dengan mudah sulit dan berat serta memerlukan waktu yang cukup lama pula. Oleh karena itu, maka kisah dalam al-Quran sangat bermanfaat dan mengandung banyak faedah.

  Pada umumnya, anak-anak suka mendengarkan cerita-cerita, memperhatikan riwayat kisah, dan ingatnya segera menampung apa yang diriwayatkan kepadanya, kemudian ia menirukan dan mengisahkannya.

 Fenomena fitrah kejiwaan ini sudah seharusnya dimanfaatkan oleh para pendidik dalam lapangan pendidikan, khususnya pendidikan agama yang memerlukan inti pengajaran dan guru pendidikan.

 Dalam kisah-kisah Qur’ani terdapat sarana yang dapat membantu kesuksesan para pendidik dalam melaksanakan tugasnya dan membekali mereka dengan bekal kependidikan berupa kehidupan para nabi, berita tentang umat terdahulu, sunnatullah dalam kehidupan masyarakat dan tentang bangsa-bangsa. Dan semua itu dikatakan dengan benar dan jujur. Para pendidik hendaknya mampu menyuguhkan kisah-kisah Qur’ani itu dengan aturan bahasa yang sesuai dengan nalar pelajar dalam segala tingkatan.

        Tidak diragukan lagi bahwa kisah yang baik dan cermat akan digemari dan menembus relung jiwa manusia dengan mudah. Segenap perasaan mengikuti alur kisah tersebut tanpa merasa jemu atau kesal, serta unsur-unsurnya dapat dijelajahi akal sehingga ia dapat memetik dari keindahan tamannya aneka ragam bunga dan buah-buahan.

         Pelajaran yang disampaikan dengan metode talqiin dan ceramah akan menimbulkan kebosanan, bahkan tidak dapat diikuti sepenuhnya oleh generasi muda kecuali dengan sulit dan berat serta memerlukan waktu yang cukup lama pula. Oleh karena itu, maka uslub gashashi (narasi) sangat bermanfaat dan mengandung banyak faedah. Pada umumnya, anak-anak suka mendengarkan cerita-cerita, pemperhatikan riwayat kisah, dan ingatannya segera menampung apa yang diriwayatkan kepadanya, kemudian ia menirukan dan mengisahkannya

 Fenomena fitrah kejiwaan ini sudah seharusnya dimanfaatkan oleh para pendidik dalam lapangan pendidikan, khususnya pendidikan agama yang merupakan inti pengajaran dan sosok guru pendidikan.

      Dalam kisah-kisah al-Qur’an ini terdapat lahan subur yang dapat membantu kesuksesan para pendidik dalam melaksanakan tugasnya dan membekali mereka dengan bekal kependidikan berupa teladan hidup para Nabi, berita-berita tentang umat terdahulu, sunnatullah dalam kehidupan masyarakat dan hal ihwal bangsa-bangsa. Dan semua itu dikatakan dengan benar dan jujur. Para pendidik hendaknya mampu menyuguhkan kisah-kisah qur’ani itu dengan uslub bahasa yang sesuai dengan tingkat pelajar dalam segala tingkatan. Sejumlah kisah keagamaan yang disusun oleh Ustadz Sayid Qutub dan Ustadz as-Sahhar telah berhasil memberikan bekal bermanfaat dan berguna bagi anak-anak kita, dengan keberhasilan yang tiada bandingnya. Demikian pula al-Jarim telah menyajikan kisah-kisah Qur’ani dengan gaya sastra yang indah dan tinggi, serta lebih banyak analisis mendalam. Alangkah baiknya andaikata orang lain pun mengikuti dan meneruskan metode pendidikan baik ini.

        Bentuk ini adalah untuk memberikan pelajaran sebuah kebenaran, agar selalu mengerti akan pentingnya sebuah pengetahuan dan hikmah. Contoh tentang hal ini dalam surat Luqman, sebagaimana diketahui bahwa menurut jumhur ulama’, Luqman bukanlah seorang nabi, kecuali pendapat Ikrimah dan Al-Syaibani, akan tetapi ia adalah seorang yang sholeh yang diberi oleh Allah kelebihan, hikmah dan kemampuan memutuskan antara yang haq dan yang batal dan dimuliakan oleh Allah dengan ma’rifat dan ilmu dan ta’bir yang tepat dan benar. Dalam kepribadiaanya ia adalah sosok hamba yang sangat sederhana, dan sebagai qodli atas bani isroil. Adapun tentang Luqman ini Allah berfirman :

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu “Bersyukurlah kepada Allah”. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia besyukur untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnaya Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzoliman yang besar”. Dan kami perintahkan manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tua, ibunya telahmengandungnya dalamkeadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kedua orangtuamu, hanya kepadaKulah kamu kembali. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukanKu dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Dan pergauilah mereka di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKulah kembalimu, maka kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Luqman berkata): Hai anakku, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau dilangit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Luqman 12-16 ).

 Dalam ayat diatas, pengertian yang dapat dipetik bahwa pendidikan orang tua, kepayahan dan kesulitannya baik malam maupun siang hari, agar anak mau mengingat kebaikan orang tua yang telah diterimanya.

Selain itu pula terdapat konsep ancaman yang membuat bentuk ini adalah untuk membuat sebuah peringatan (warning) agar meninggalkan sesuatu yang buruk atau jangan melakukan sesuatu yang buruk, karena segala sesutu yang buruk itu mengandung konsekuensi sebagai balasan atas perbuatan buruk tersebut, dapat berupa hukuman atau musibah karma.

       Dapat dicontohkan sebagaimana dalam firman Allah Al-Lahab ayat: 1-5. Surat ini menceritakan akan konsekuensi sebuah perbuatan buruk yang telah dilakukan oleh Abu Lahab, sehingga cerita ini akan menjadi peringatan sekaligus ancaman bagi mereka yang mengulang perbuatan jahat seperti apa yang telah dilakukan oleh Abu lahab dan Isterinya. Jelaslah bahwa peringatan dan ancaman dalam kisah-kisah dalam al-Qur’an hakikatnya tidak lain merupakan bentuk psikoterapi dari kesombongan dan keangkuhan dari orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah, yang harus dihadapi dengan peringatan dan ancaman yang dapat merendahkan diri mereka.

         Dari sisi lain, manusia sendiri secara psikologis merupakan makluk dengan karakteristik dan sifat yang tangkas sejak lahir yakni seperti naluri cinta hidup, naluri takut, tunduk, menentang,dan sebagainya. Dari sifat khusus manusia itu selanjutnya akan memunculkan dorongan-dorongan dalam diri manusia. Dengan dorongan-dorongan inilah manusia akan memenuhi kebutuhannya, baik rasa aman, minat dan sebagainya.

         Namun sebaliknya bila dorongan itu berlebihan, maka akibatnya justru manusia tidak lagi dapat mengendalikan dorongan itu, akan tetapi dorongan itulah yang akan mengendalikannya dan hal ini disebut dengan penyimpangan dorongan, misalnya seseorang menjadi berlebihan dalam memusuhi dan menganiaya terhadap sesama.

          Penggunaan ancaman sebagai akibat dari sebuah perbuatan yaitu berupa siksa Allah di akhirat kelak, seseorang berusaha menghindarinya, bahkan apabila ketakutan itu begitu dahsyat, hal ini akan membuat seseorang tertimpa kebingungan untuk waktu yang lama, dimana ia tidak akan mampu bergerak dan berpikir. Dalam keadaan seperti inilah, seluruh perhatiaannya akan tertuju pada bahaya yang mengancam dan usahanya untuk melepaskan diri dari bahaya itu serta memalingkannya dari hal-hal lain.

BAB III

  PENUTUP

A. Saran

Menurut bahasa kata Qashash jamak dari Qishah, artinya kisah, cerita atau keadaan. Sedangkan menurut istilah Qashashul Quran ialah kisah-kisah dalam al-Quran tentang Nabi dan Rasul mereka, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.

Tiga macam kisah dalam al-Quran yakni kisah para nabi terdahulu, kisah yang berhubungan dengan kejadian pada masa lalu dan orang-orang yang tidak disebutkan kenabiannya, dan kisah-kisah yang terjadi pada masa Rasulullah.

Kisah (Qashash) dalam al-Quran dapat digunakan sebagai sarana dakwah, hiburan, motivasi, dan lain-lain. Selain itu Qashash biasanya menceritakan semua keadaan dengan cara yang menarik dan mempesona. Dan bahkan  tulisan di dalam al-Qur’an dapat mengalahkan syair-syair yang terkenal di Arab.

B. Saran

Penulis telah berusaha maksimal untuk mewujudkan makalah yang baik. Namun, jika masih terdapat kesalahan dalam penulisan maupun yang lain, penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua untuk menambah wawasan.

DAFTAR  PUSTAKA

al-Khaldi Fattah Abdul Shalah, Ma’a Qishash al-Sabiqin fi al-Qur’an, alih

bahasa: Abdullah, Kisah-kisah al-Qur’an; Perjalanan dari Orang-orang

Dahulu (Jakarta: Gema Insani Press, 1999)

Djalal, Abdul, Ulumul Qur’an (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998)

Diakses  pada  29 maret 2020 https://almanhaj.or.id/5843-urgensi-mengenal-kisahkisah-dalam-alquran.html

Demikianlah artikel tentang ” Contoh Makalah Kisah-Kisah Dalam Al-qur’an ” Jika kalian merasa belum puas kalian bisa mengunjugi link ini halangrintang.com

Leave a Reply

Theme by Anders Norén